Dermotimes.id – Derasnya arus globalisasi melahirkan berbagai dampak yang memengaruhi kehidupan masyarakat di Indonesia. Munculnya tren sosial media merupakan salah-satu dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia saat ini.
Pada tahun 2024, data dari DATAREPORTAL memperlihatkan jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai 49,9% dari total seluruh populasi masyarakat. Munculnya tren bersosial media ini, sekaligus menunjukkan adanya cara baru bagi masyarakat Indonesia dalam berinteraksi dan membentuk identitas sosial.
Konten kreator adalah entitas baru yang terlahir akibat adanya tren sosial media. Dalam peristiwa ini, konten kreator muncul sebagai aktor sosial baru dalam ruang digital yang tumbuh pesat, mereka berperan sebagai penggerak tren, pembentuk opini, sekaligus jembatan antara dunia virtual dan realitas sosial.
Munculnya konten kreator sebagai aktor dalam dunia sosial yang baru, membuka peluang tersendiri dalam memengaruhi ekosistem panggung kepemimpinan. Peran konten kreator dalam ruang digital yang luas dapat membuat panggung kepemimpinan tak lagi didominasi oleh pejabat publik, elite politik, atau figur formal lainnya.
Kartini Kartono mendefinisikan pemimpin adalah individu yang memiliki kemampuan dan keunggulan terutama dalam suatu bidang tertentu, sehingga ia mampu memengaruhi orang lain untuk secara bersama-sama melakukan berbagai aktivitas guna mencapai satu atau beberapa tujuan.
Luasnya ruang digital membuka peluang bagi siapa pun berkesempatan menjadi konten kreator. Dengan demikian, konten kreator dapat ikut serta mengisi panggung kepemimpinan, asal ia mampu membangun pengaruh, memberi inspirasi, dan menyuarakan narasi yang menggugah.
Peluang lahirnya sosok pemimpin dari diri seorang konten kreator membuka ruang baru dalam mengatasi berbagai dampak yang dihasilkan oleh derasnya arus globalisasi yang terjadi di Indonesia. Contohnya dalam skala lokal, saat ini banyak ditemui konten kreator yang secara tidak langsung terlibat dalam upaya penguatan identitas kultural dan sosial suatu daerah.
Tombro Widodo, adalah salah-satu konten kreator asal Trenggalek-Jawa Timur, yang berhasil memanfaatkan media sosial untuk membangun narasi lokal yang kuat. Melalui konten-konten edukatif berbalut hiburan yang bernuansa pedesaan, konten kreator yang biasa di juluki “Profesor Aritmatika” ini berhasil menyajikan konten-konten komedi yang menyisipkan nilai-nilai kearifan lokal.
Selain itu, beliau juga memperkenalkan kehidupan petani, serta memperlihatkan bentuk dukungan terhadap pelaku UMKM di sekitarnya. Sehingga, hal yang demikian tersebut sekaligus berhasil membangun kepopuleran Tombro Widodo di masyarakat luas dan memperkuat identitasnya sebagai publik figur.
Namun, untuk menjadikan peran ini lebih dari sekedar populer dan mengacu pada konteks kepemimpinan digital yang lebih sistematis, dibutuhkan mutu yang lebih untuk mencapai hal tersebut. Dalam buku Digital Mastery (2018), menurut Priyantono Rudito, kepemimpinan digital merujuk pada kapasitas seorang pemimpin dalam memandu dan mendorong transformasi organisasi melalui pemanfaatan teknologi digital, yang mencakup penyesuaian dalam aspek strategi, budaya kerja, alur proses, pengelolaan sumber daya manusia, serta pola kepemimpinan.
Dalam hal ini, perlu digaris bawahi bahwa terdapat dua hal yang menjadi faktor krusial dari keberhasilan kepemimpinan digital, yaitu integritas pemimpin dan kualitas para pengikutnya. Melalui sosok pemimpin yang berintegritas tinggi, sebuah kelompok akan memiliki arah tujuan yang jelas.
Namun, keberhasilan kepemimpinan digital tidak hanya ditentukan oleh sosok pemimpinnya semata. Anggota yang memiliki kecakapan digital yang kritis dan partisipatif juga turut berperan penting. Kondisi ini mengarah pada pentingnya sinergi antara pemimpin dan pengikutnya guna mencapai tujuan bersama.
Kebutuhan akan adanya sinergi antara masyarakat dan pemimpin publik dalam rangka memperkuat kapasitas digital nasional menjadi semakin mendesak, terutama dalam menciptakan ekosistem digital yang adaptif dan berkelanjutan.
Disisi lain, ditemui tingkat kematangan masyarakat dalam literasi digital pun masih tergolong rendah. Berdasarkan data KOMINFO, ditemui skor survei indeks masyarakat digital Indonesia (IMDI) pada tahun 2024 berada di angka 43,34, tergolong rendah hingga sedang.
Mengutip dari laman resmi KOMINFO, mantan Menkominfo Budi Arie Setiadi dalam peluncuran Hasil Pengukuran Indeks Masyarakat Digital Indonesia 2024 menuturkan bahwa, IMDI dirancang untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang tingkat literasi dan keterampilan digital masyarakat Indonesia. Ini sangat penting untuk memastikan kita mampu mencetak talenta digital yang kompeten dan siap bersaing di era transformasi digital global.
Dari data IMDI yang telah disebutkan, telah mencerminkan bagaimana lemahnya tingkat literasi digital masyarakat Indonesia. Hal ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk menuju ekosistem digital yang adaptif. Adanya edukasi yang diberikan kepada masyarakat adalah sebuah keharusan yang perlu dilakukan oleh negara.
Akan lebih mudah dicapai, jika negara memiliki banyak sosok konten kreator yang berintegritas dengan konsistensi tinggi. Sebagaimana dalam hal ini harus di realisasikan nantinya, konten-konten yang beredar harus benar-benar diperhatikan aspek kebermanfaatannya. Konten-konten yang beredar tidak boleh mengandung hal-hal yang berpotensi memecah belah bangsa. Seperti mengandung hoax, rasisme, sara dan lain sebagainya.
Maka, untuk menjamin terpenuhinya aspek-aspek kemanfaatan dalam konten yang beredar, dibutuhkan peran pemerintah untuk memperketat regulasi penayangan konten di sosial media atau ranah digital lainnya. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan pendampingan dan pemberdayaan bagi para konten kreator.
Hal ini mungkin bisa di wujudkan melalui pelatihan maupun kemitraan antara lembaga negara, swasta, maupun komunitas terkait. Sehingga dengan demikian, peran negara tidak sebatas sebagai pengawas saja, melainkan turut hadir sebagai fasilitator yang mendukung terciptanya ekosistem digital yang adaptif, edukatif, dan inspiratif.
Meski kondisi Indonesia saat ini sedang di bayangi kecemasan akan rendahnya tingkat literasi digital di kalangan masyarakat, dalam hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat adalah pihak yang nantinya akan menerima konten-konten yang beredar.
Sehingga, penting bagi masyarakat yang sudah melek digitalisasi dapat secara konsisten mempertahankan konsistensinya untuk mampu menyaring informasi melalui konten yang beredar. Dengan demikian, peluang lahirnya konten kreator yang bermutu berasal dari masyarakat yang berintegritas akan semakin tinggi. Hal tersebut akan menjadi sebuah tren positif jika benar-benar dapat terealisasi secara konseptual dalam realitas kehidupan.
Sebagai konten kreator, sudah semestinya memiliki kesadaran diri untuk menjaga kualitas mutu dari konten yang dihasilkan. Dengan begitu, akan tercipta sebuah esensi agen of change dalam agenda terwujudnya digital leadership di Indonesia.
Pada akhirnya dampak yang dihasilkan dalam proses transformasi ini tidak hanya sebatas pada peningkatan popularitas atau viralitas semata. Tetapi juga berkontribusi nyata terhadap perubahan sosial yang lebih luas, seperti tumbuhnya kesadaran kolektif, terbangunnya literasi digital yang inklusif, serta terciptanya kepemimpinan digital yang berorientasi pada nilai, etika, dan kemajuan bersama.

