Dermotimes.id– Pilkada merupakan salah satu wujud pemerataan demokrasi di tingkat daerah, bagaimana dalam hal ini Masyarakat memilih calon pemimpinnya yang mampu membawa perubahan kearah lebih baik. Disamping itu, dalam proses berjalannya pilkada tidak terlepas dari dinamika politik yang kian kompleks. Momentum ini menjadi sarana bagi masyarakat untuk menyuarakan suara dan memilih figur yang di anggap mampu membawa perubahan kearah yang lebih positif. Bukan hanya sekedar ajang pemilihan pemimpin, akan tetapi ini merupakan momentum penting yang mengambarkan harapan dan aspirasi masyarakat dalam menentukan arah Pembangunan dan kebijakan lokal yang berorientasi kepada kepentingan umum. Namun dibalik perayaan demokrasi, sering kali terdapat tantangan besar seperti politik identitas, politik uang, hingga partisipasi masyarakat yang cenderung pasif. Situasi politik praktis seperti ini tentunya telah merubah pola pikir kita tentang esensi dari pesta demokrasi itu sendiri, selain itu politik praktis semacam ini juga dapat menjadi induk perpecahaan baik itu antar kekerabatan maupun secara kekeluargaan.
Sama halnya yang sedang terjadi di Kabupaten Flores Timur, dimana hubungan kekeluargaan itu sudah ditanam dari sejak nenek moyang hingga sekarang yang dikenal dengan Lamaholot. Secara definisi Lamaholot ialah kampung yang bersambung-sambung, hakikat ini mempertegas bahwa orang Lamaholot adalah Kakan Arin (Kakak beradik atau Bersaudara). Pesta demokrasi yang diadakan dalam lima tahunan ini harusnya dimanfaatkan oleh masyarakat Flores Timur sebagai proses pembelajaran yang berlanjut seiring dengan bertambahnya generasi baru yang mengikuti pemilihan tersebut. Fenomena hari ini hanyalah perdebatan kusir antara simpatisan calon satu dan lainnya. Sebaliknya media sosial per hari ini dipakai hanya untuk menyudutkan dan mengumbar kebencian satu sama lain, dengan demikian hal ini menjadi penanda tidak sehatnya suasana politik yang sedang terjadi di Flores Timur. Penyalahgunaan media sosial dalam situasi politik seperti ini sudah mengakar dan dinormalisasikan bagi masyarakat, bahkan pada anak yang sehahursnya tidak terpapar dengan hal-hal demikian. Tanpa kita sadari hal semacam ini akan membawa masyarakat Flores Timur kedalam jurang kegelapan, pembodohan, hingga terkikisnya daya berpikir kritis. Selain itu hal, semacam ini sudah menjadi konsumsi primer oleh generasi Z dan Alpha yang notabenenya dua generasi ini digadang-gadang sebagai generasi emas di 2045 nantinya. Kesalahan pengunaan media sosial seperti ini jika tidak cepat dibenahi maka tidak bisa dipungkiri kedua generasi ini akan mewarisi hal yang sama di hari esok.
Masyarakat Flores Timur dalam hal ini terkesan fomo dan fanatik yang berlebihan tanpa memandang gagasan, ide, dan goals yang dibawa para calon dalam berkontestasi. Melihat fenomena yang terjadi, masyarakat Flores Timur hanya dibenturkan pada persoalan masing-masing calon yang bersifat personal. Masyarakat Flores Timur hari ini hanya berputar didalam lingkaran arus sentiment pasang calon. Hal ini diakibatkan oleh ketidaksukaan atau sakit hati mereka pada calon tertentu, oleh sebab itu mereka memilih untuk ikut pada arus tertentu.
Penulis berpandangan bahwa frasa Kelamaholotan yang sudah dititipkan oleh nenek moyang seolah-olah hilang bak di telan bumi. Hal ini bisa dilihat diberbagai platform media sosial dimana argumentasi dibangun dengan landasan sentimen pada calon yang tidak didukungnya dan hilangnya rasa empati terhadap sesama Lamaholot (Kakan Arin atau Saudara). Fenomena seperti ini tak jarang terjadi, hanya didasari oleh popularitas dari setiap orang yang ia ikuti. Hanya sekedar dia populer dan banyak yang mendukungnya maka dia dianggap benar dan harus diikuti tanpa melihat atau mencari tahu bukti dari kebenaran yang di anut oleh orang yang di ikutinya. Pola pikir semacam ini menandakan lemahnya daya critical thinking (berpikir Kritis) masyarakat Flores Timur. Popularitas dari seseorang tidak bisa kita jadikan sebagai satu-satunya dasar utama untuk menentukan benar dan salah, sebagai bahan pertimbangan boleh-boleh saja, tetapi dia tidak bisa di klaim sebagai kebenaran final. Jika dikaitkan dengan konteks pemilihan, hal semacam ini disebut “Bandwagon Fallacy”.
Maka dari itu, melihat permasalahan yang terjadi pendidikan politik menjadi solusi yang amat penting dalam proses demokrasi terkhusus untuk masyarakat dan calon pemimpin guna memberikan pemahaman mengenai pentingnya etika dan keadaban dalam kontestasi politik. Selain itu, jika dua hal ini terealisasi dengan baik maka masyarakat Flores Timur akan lebih dewasa dan lebih rasional dalam memilih serta menyikapi situasi dan kondisi politik. Walaupun demikian, hal semacam itu kembali lagi kepada setiap calon pemimpin dan partai politik bagaimana merekayasanya. Apakah tetap membiarkan masyarakat terus berada dibawah garis pembodohan dan hanya mementingkan Hasrat kelompok? atau mendobrak tembok kebodohan itu demi Flores Timur yang lebih baik dan mampu bersaing dengan daerah lainnya.
“Penting untuk memastikan bahwa kita berbicara satu sama lain dengan cara yang menyembuhkan, bukan dengan cara yang melukai” – Barack Obama.

