Dermotimes.id – Pesatnya perkembangan di era digital terus berlangsung, sehingga mengakibatkan banyak teknologi terus mengalami kemajuan, entah ke arah yang lebih baik ataupun ke arah otomatisasi. Ketika berbicara tentang era digital, tentunya sektor telekomunikasi tidak akan luput dari pembahasan, melihat per hari ini sektor tersebut menjadi salah satu sektor yang mengalami perubahan yang amat cepat.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2023, pembangunan TIK di Indonesia memperlihatkan adanya kemajuan dibandingkan tahun 2022, yang tergambar dalam peningkatan nilai Indeks Pembangunan TIK. Nilai indeks tersebut naik dari 5,85 pada tahun 2022 menjadi 5,90 pada tahun 2023, meningkat sebesar 0,05 poin atau tumbuh sebesar 0,85%.
Tidak hanya telekomunikasi, sektor ekonomi dan bisnis pun telah mengalami perubahan dalam digitalisasi. Menurut data dari Kemenkeu RI, nilai industri digital Indonesia berkembang secara signifikan dari 41 miliar dollar pada tahun 2019 menjadi 77 miliar dollar pada tahun 2022 dan diperkirakan akan meningkat menjadi 130 miliar dollar pada tahun 2025, terutama didorong dengan adanya e-commerce, transportasi dan pengiriman makanan, perjalanan serta media online.
Menurut laporan Google Temasek, dan Bain & Company Tahun 2023, sekitar 40% dari nilai total transaksi ekonomi digital di ASEAN pada tahun 2023 berasal dari Indonesia. Kondisi tersebut menandakan bahwa Indonesia telah mulai berkembang dalam hal digitalisasi. Dengan adanya perubahan digital yang signifikan ini, diperlukan peran pemimpin yang bisa beradaptasi dalam menghadapi perubahan ini.
Aadaptasi gaya kepemimpinan menjadi hal yang sangat di perlukan sehingga mampu bersaing dan mengikuti perkembangan zaman. Gaya kepemimpinan yang awalnya masih tradisional harus bisa melakukan transisi ke gaya kepemimpinan digital.
Para pemimpin publik juga diharapkan dapat memanfaatkan teknologi yang sudah berkembang untuk meningkatkan efisiensi serta transparansi dalam pelayanan kepada masyarakat.
Mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Tjahjo Kumolo, mengungkapkan bahwa dalam melakukan transformasi teknologi, seorang pemimpin digital perlu memanfaatkan aset digital untuk mengambil keputusan dengan cepat dan akurat.
Lebih dari itu, seorang pemimpin digital juga harus memiliki kemampuan untuk berinovasi serta berkolaborasi dengan berbagai unsur organisasi atau pemangku kepentingan lainnya guna menemukan solusi yang tepat.
Mantan Menteri Dalam Negeri tersebut juga mengungkapkan bahwa, saat ini penggunaan teknologi digital telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses bisnis pemerintah, baik di tingkat instansi pusat maupun daerah.
Transisi dari gaya kepemimpian tradisional ke digital juga bukan suatu hal yang mudah. Mengingat gaya kepemimpinan tradisional merupakan gaya yang cenderung mengutamakan tradisi, budaya, adat-istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun.
Kepemimpinan ini juga kerap kali ditandai dengan struktur hierarkisnya yang kaku, di mana dalam pengambilan keputusannya terpusat pada pemimpin teratas. Namun, kelebihan dari kepemimpinan ini adalah stabilitas dan kejelasan dalam peran dan tanggung jawab dari masing-masing pengikutnya.
Sebaliknya, gaya kepemimpinan digital yang termasuk kedalam ranah teori kepemimpinan modern, bukan hanya tentang seberapa mampu seorang pemimpin menguasai teknologi, tetapi juga tentang bagaimana mengintegrasikan teknologi digital ke dalam visi, strategi, dan operasional bisnis (Febriantina et al. 2025).
Seorang digital leader harus memiliki karakteristik tersendiri, yang membedakan mereka dari pemimpin biasa yakni inovatif, adaptif, visioner, kolaboratif, serta data-driven (Pengambilan keputusan berbasis data). Pemimpin digital tidak hanya mengandalkan otoritas mereka saja, tetapi juga mendorong partisipasi dan keterlibatan karyawan dalam proses pengambilan keputusan.
Sebagai pemimpin digital, setidaknya terdapat beberapa kemampuan atau ketrampilan yang dibutuhkan, yaitu kemampuan berkomunikasi melalui media digital, kemampuan menggunakan aset digital untuk membuat keputusan yang cepat dan tepat, keterampilan untuk menangani perubahan inovatif untuk layanan organisasi, kemampuan berfikir analitik, kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan teknologi serta menjaga hubungan antar anggota/ tim dalam mengelola sumber daya manusia lintas generasi antara Baby Boomers dengan Generasi Z maupun Milenial.
Perubahan kepemimpinan tradisional ke digital ini didorong oleh beberapa faktor utama, diantaranya yaitu perkembangan pesat teknologi yang dipicu oleh pandemi Covid-19 dan persaingan global yang semakin ketat mendorong sejumlah perusahaan maupun negara untuk berinovasi melalui transformasi digital.
Namun dari banyaknya faktor pendorong, terdapat juga beberapa tantangan yang dihadapi selama proses transisi ini berlangsung, salah satunya ada Komunikasi dan Kolaborasi secara Virtual, dengan tim yang tersebar di berbagai lokasi, pemimpin harus mampu menemukan metode untuk memastikan komunikasi yang efektif serta kolaborasi yang produktif.
Hal ini jelas memerlukan penggunaan tools dan teknologi yang tepat dan penerapan strategi komunikasi yang jelas untuk menghindari terjadinya miskomunikasi dan memastikan semua anggota merasa terlibat.
Akan tetapi, dampak positif dari perubahan paradigma ini sangat signifikan. Organisasi yang menerapkan kepemimpinan digital kerap kali mengalami peningkatan efisiensi, keterlibatan karyawan, serta mampu merespons kebutuhan pasar dengan lebih baik.
Salah satu contoh perusahaan di Indonesia yang telah mengadopsi digitalisasi yaitu PT Pos Indonesia. Dengan kepemimpinan Faizal Rochmad Djoemadi sebagai CEO Pos Indonesia diniliai oleh juri Anugerah BUMN 2021, mampu mempercepat transformasi Pos Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pos Indonesia merilis platform baru layanan kurir Pos Indonesia agar lebih sigap merespon fitur-fitur yang dibutuhkan pasar, membangun partnership dengan penyedia platform digital yang teruji secara domestik maupun internasional, serta memperbaiki back-end.
Menurut data Digital Transformation Indonesia (DTI), saat ini hanya 43% perusahaan di Indonesia yang telah menerapkan atau memperluas transformasi digital, sementara 34% masih dalam proses melakukan transformasi atau berencana untuk memulainya.
Dengan itu, Pos Indonesia telah membuktikan bahwa dengan digitalisasi dapat membangun efisiensi, produktivitas, kualitas produk, inovasi, dan daya saing.
Dalam hal ini pemimpin harus siap menghadapi resistensi terhadap perubahan dari karyawan maupun anggota tim yang terbiasa dengan cara kerja tradisional dan pemimpin juga harus mampu mengembangkan strategi yang tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga pada kesejahteraan mental dan emosional anggota tim, menciptakan lingkungan yang mendukung kolaborasi dan inovasi meskipun dalam jarak jauh.
Melalui pendekatan yang tepat, pemimpin dapat mengatasi tantangan ini dan mengoptimalkan peluang yang muncul dari kepemimpinan digital, seperti kemampuan teknologi agar mereka bisa memanfaatkan alat digital secara maksimal.
Pendekatan emosional merupakan salah satu langkah kongkret untuk membangun hubungan yang kuat dengan anggota tim serta kemampuan analitis dalam menganalisis data dengan baik dan membuat keputusan berbasis bukti untuk mengarahkan organisasi ke arah yang benar.
Oleh sebab itu, kesuksesan dalam era digital ini bergantung pada kemampuan pemimpin untuk beradaptasi, berinovasi, dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kolaborasi dan kreativitas, sehingga organisasi dapat terus berkembang dan bersaing di pasar global.

