Dermotimes.id- Bisa menumpuh pendidikan di perguruan tinggi merupakan suatu kemewahan yang sangat luar biasa karena hanya sebagian besar yang dapat menempuh pendidikan sampai ketingkat ini, bisa dikatakan bahwa siapa yang dapat mencicipi perguruan tinggi adalah sebagai Mahasiswa dengan kelas ekonomi yang mencukupi. Berdasarkan data dari Direktoral Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcakpil), penduduk Indonesia berjumlah 275,36 juta jiwa pada tahun 2022 dari jumlah tersebut hanya 6,41% yang sudah mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Sunggah mewah bukan, namun apalah arti sebuah kemewahan bisa menempuh perguruan tinggi, apabila tugas saja mereka joki.
Padahal mereka merupakan orang-orang istimewa bisa belajar di bangku kelas yang sangat mahal itu, namun itulah yang terjadi pada hari ini, sangat disayangkan dengan kondisi mahasiswa seperti itu. Bagi penulis tugas yang diberikan dosen banyak memberikan manfaat kepada mahasiwa diantaranya dapat mengingat kembali atas materi yang telah diberikan dosen sewaktu pelajaran di ruang kelas, sehingga dengan adanya tugas tersebut dapat melatih daya ingat mahasiswa terhadap materi yang telah diberikan. Selain itu, tugas yang diberikan dosen dapat melatih daya kritis sekaligus mengasah otak mahasiwa, sebab apabila mendengarkan ceramah dosen di dalam kelas hanya akan disitu saja ilmu yang akan kita dapat. Ibarat kata masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri begitu kiranya.
Praktik penjokian ini banyak sudah dapat kita temukan di media sosial entah itu Google, instagram, ataupun melalui Whatshaap. Adanya joki tugas ini memberikan alternatif bagi mahasiswa untuk mudah menyelesaikan tanggung jawabnya, cukup dengan mereka memberitahu tugas apa yang perlu dikerjakan kepada penjoki, hal itu sudah langsung dapat dikerjakannya. sungguh luar biasanya bukan, Bisa diibaratkan seperti AI apapun bisa yang dia kerjakan, namun tugas yang dikerjakan itu bukanlah gratis Cuma-Cuma, ada sejumlah biaya harus di bayar, untuk harganya tergantung penyedia joki dan seberapa tingkat kesulitan tugasnya. Namun, harga bukanlah masalah yang penting nilai mulus, tidak dikejar-kejar dosen, bisa dipamerin saat nilai keluar apalagi kalau nilainya hampir menyentuh 4.00. sungguh geli bukan melihat tingkahnhya.
Maraknya joki tugas yang dilakukan oleh mahasiswa pada hari ini bukanlah muncul begitu saja, ada beberapa faktor yang melandasi diantaranya tuntun sosial untuk mendapatkan nilai yang bagus, tuntutan selesai kuliah bisa diterima kerja di perusahaan ternama dengan mudah, dan juga berlebihannya tugas yang diberikan dosen. Sehingga membuat mereka bingung mau ngerjakan tugas yang mana. Namun, hal seperti ini tidaklah dapat menjadi sebuah pembenaran terhadap apa yang dilakukannya. Sebab tuntutan demikian tidaklah seharusnya menjadi acuan untuk melakukan joki tugas. Sebab joki tugas akan memberikan dampak yang berkepanjangan dalam menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Sungguh ngeri bukan.
Adapun juga dengan joki tugas ini dapat membuat kemampuan kongnitif mahasiswa semakin menurun, akibatnya boro-boro persoalan tuntutan itu bisa diselesaikan, malahan justru akan menambah masalah baru, kenapa bisa menambah masalah baru, bayangkan apabila nilai kita yang bagus tersebut, tidak dapat dipertanggungjawabkan bahwa nilai tersubut memanglah pantas untuk kita dapatkan. terhadap kondisi seperti itulah yang kadang belum disadari oleh mahasiswa yang selalu menggunakan joki tugas. Yang penting selesai, dapat nilai bagus, saat keluar tidak bisa apa-apa. Sungguh pasti malu bukan.
Mahasiswa memiliki peran sebagai agent of change hal itu merupakan bagian yang penting dalam lingkup pendidikan. Artinya, mahasiwa sebagai generasi muda yang akan membawa lokomotif kemajuan, maka dari itu mahasiswa perlu memiliki kecakapan dalam pengetahuan, gagasan,, serta keterampilan.
Sebagai seorang mahasiswa perlu memperkaya wawasan dengan belajar, dan mengerjakan tugas, ataupun juga belajar di ruang kelas, sebagaimana yang disampaikan oleh Anies Baswedan yang mengatakan, jangan hanya belajar di dalam ruang kelas, kuliah tidak hanya dalam ruang kelas tetapi juga di luar ruang kelas. Sebab apabila hanya belajar dalam ruang kelas akan membawa kepada rombongan yang merugi, kerana diujung masa kuliah hanya akan membawa selembar kertas.
Selain itu dampak joki tugas ini membuat karakter mahasiswa pada hari ini terdegradasi, kondisi seperti ini tentunya sangat disayangkan untuk Indonesia kedepannya, yang katanya akan menjadi negara emas di tahun 2045. Hal tersebut membuat saya Teringat sejak waktu pertama masuk dunia kuliah saya didontrin dengan sebuah perkataan Indonesia Emas oleh salah satu seorang dosen ia dengan lantangnya mengatakan hal tersebut di di ribuan mahasiswa pada waktu itu.
Namun melihat kondisi mahasiswa pada hari ini, semakin membuat saya sadar bahwa hal tersebut hanyalah sebuah omong kosong yang disampaikannya, ketidak jelasan mahasiswa pada hari ini, dapat kita lihat ketidak pedulian mereka untuk mengembangkan kemampuannya, Padahal untuk menuju Indonesia Emas hal penting adalah peningkatan daya saing SDM-nya terutama aspek intelektualnya yang kreatif dan inovatif. Namun, kebanyakan dari mereka hanya berfikir yang penting masuk ke kelas, ngerjain tugas walaupun itu hasil dari joki. Sehingga bagaimana mungkin Indonesia emas di tahun 2045 apabila tugas kecil saja ditinggalkan, bagaimana mungkin bisa mengerjakan tugas yang besar.
Penulis : Ferdi Ahmad
