Madzhab Djaeng : Menjawab Reformasi Organisasi

Dermotimes.id Selasa, (21/5/2023) Madzhab Djaeng Institute Kembali melaksanakan agenda diskusinya dengan mengangkat tema “Reformasi Organisasi : Antara Daya Tawar Atau Malapetaka Matinya Eksistensi organisasi”, Kegiatan tersebut di inisiasi langsung oleh bidang PTKP HMI ISIP UMM. Pada pelaksanaannya kegiatan ini berlokasi di Pasadena Coffe, Dau, Kabupaten Malang.

Kegiatan yang berlangsung berjalan selama empat jam ini diwarnai dengan pertukaran opini serta dialektika yang sangat sengit, dan hal itu menjadi ciri khas tersendiri pada setiap kegiatan yang diadakan oleh Madzhab Djaeng Institute.

Satria Naufal Putra Ansar sebagai Presiden Mahasiswa UB dan juga Yudhistira Ananta sebagai Kabid Organisasi IPM Jatim yang merupakan pemantik pada kegiatan kali ini sama-sama memberikan tanggapan mengenai keberlangsungan kegiatan malam tadi.

“Madzhab Djaeng ini harus di apresiasi dengan luar biasa, acara yang dihadiri oleh kelompok Mahasiswa yang aktif, diskursus yang begitu luar biasa, bahkan saya rasa Madzhab Djaeng ini adalah acara yang paling aktif yang saya hadiri dua bulan terakhir, audiensnya luar biasa kritis,” ujar Naufal.

Yudhistira juga memberikan tanggapannya terkait kegiatan malam tadi, “Cukup apresiatif terhadap Gerakan-gerakan yang di inisiasi oleh teman-teman HMI FISIP UMM, untuk kemudian mewadahi teman-teman mahasiswa, dan kegiatan ini didominasi oleh seluruh Mahasiswa Se-Malang Raya,” sebut Yudhistira.

Pada saat pelaksanakan kegiatan, beberapa argument yang kemudian disampaikan oleh tiap pemateri, Satria Naufal sebagai pemantik pertama sedikit menyinggung mengenai permasalahan UKT, sedangkan Yudhistira mengatakan pendapatnya jika ingin menjadi organisatoris yang baik.

“Menjadi seorang Organisatoris yang baik kita hindarkan yang Namanya egois, pertama kita harus ejawantahkan bahwa organisasi dan kawan-kawan kita yang terkecimpung dalam organisasi, itu adalah satu keluarga besar. Yang kedua yaitu karena yang kita bawa Ketika turun aksi di jalan itu merupakan order atau aspirasi Masyarakat, dan dua egois itulah yang coba kita evaluasi dan koreksi Kembali,” ujar Yudhistira.

“Dulu imperialisme itu hadir untuk mencari Gold-Glory-Gospel  Tapi sekarang pemerintah seakan lepas tanggung jawab, beberapa kampus mengatakan bahwasannya, kenaikan golongan ini kemudian untuk mensubsidi silang Mahasiswa yang kurang mampu, pertanyaannya sederhana, kenapa kemudia hari ini tanggung jawab untuk memastikan semua bisa kuliah ada pada mahasiswa yang mampu, dengan tanda kutip yang Namanya subsidi silang tersebut,” sebut Naufal.

“Harapan saya Madzhab Djaeng harus rutin melaksanakan diskusi seperti ini kedepannya, harus banyak bekerja sama dengan akademisi-akademisi, bahkan hadirkan Politisi disini untuk kemudian menjawab banyaknya pemikiran-pemikiran kritis dari kalian, untuk mereka hadir sebagai pemangku kebijakan,” ujar Naufal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *