Dermotimes.id- Gerakan feminisme lahir sebagai respon terhadap ketidaksetaraan gender dan perjuangan hak-hak perempuan, gerakan feminis telah berkembang sepanjang sejarahnya. Pada dasarnya feminisme bertujuan untuk memperjuangkan kesetaraan gender, menghormati hak asasi manusia, dan melawan patriarki yang mendominasi tatanan sosial. Namun seiring berjalannya waktu, bermunculan kelompok perempuan yang mengidentifikasi dirinya sebagai feminis tanpa memahami hakikat sebenarnya dari gerakan ini, seringkali memanipulasi narasi untuk kepentingan pribadi atau bertentangan dengan nilai-nilai feminisme itu sendiri.
Fenomena perempuan yang mengaku feminis tanpa memahami hakikat gerakan ini seringkali memperkuat stereotip negatif terhadap feminisme. Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa feminisme adalah perjuangan untuk supremasi perempuan atas laki-laki. Sebaliknya, feminisme sejati memperjuangkan kesetaraan semua gender, bukan superioritas salah satu pihak atas pihak lainnya. Konsep ini sering diabaikan oleh sebagian orang yang mengaku feminis, memposisikan perempuan sebagai korban mutlak dan mengabaikan dialog yang diperlukan untuk mencapai keseimbangan gender.
Dalam konteks ini, feminisme didistorsi dan dijadikan alat untuk membenarkan tindakan yang justru merugikan gerakan itu sendiri. Misalnya, beberapa feminis yang salah arah cenderung mengutuk laki-laki secara keseluruhan tanpa mempertimbangkan konteks sosial dan budaya yang lebih kompleks. Hal ini justru memperlebar kesenjangan antara perempuan dan laki-laki, sehingga menimbulkan polarisasi yang berbahaya. Banyak perempuan yang mengidentifikasi dirinya sebagai feminis mungkin menggunakan narasi feminis untuk memanipulasi situasi dan membenarkan tindakan mereka, meskipun hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai feminis. Misalnya, beberapa orang menggunakan status “feminis” mereka untuk membenarkan tindakan yang merugikan orang lain atau melanggar kebebasan mereka. Kebebasan yang dimaksud feminisme adalah kebebasan untuk bertanggung jawab, bukan kebebasan untuk menghancurkan hak orang lain.
Seorang feminis harus memahami bahwa kebebasan yang diperjuangkannya bukan berarti kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan untuk hidup setara, adil, dan saling menghormati tanpa memandang gender. Sayangnya, narasi tersebut kerap kali disalah gunakan oleh sebagian perempuan yang mengaku feminis untuk membenarkan tindakan yang justru memperburuk ketidakadilan. Misalnya mempermalukan orang lain dengan kedok “kebebasan berpendapat” merupakan contoh nyata bagaimana pemahaman yang dangkal terhadap feminisme dapat melemahkan tujuan suatu gerakan.
Masalah lain yang muncul dari ketidak tahuan sebagian feminis tentang hakikat feminisme adalah mereka tidak dapat memahami konsep keistimewaan. Feminisme bukan hanya tentang perempuan yang tertindas, tapi juga tentang hak-hak istimewa yang dimiliki beberapa kelompok perempuan. Kaum feminis, yang seringkali berasal dari kelompok kaya secara ekonomi, sosial, atau ras, memahami bagaimana keistimewaan mereka membuat mereka lebih diuntungkan dibandingkan perempuan lain.
Feminisme sejati mengakui interseksionalitas dan pemahaman bahwa pengalaman ketidakadilan dapat berbeda berdasarkan ras, kelas, orientasi seksual, dan banyak lagi. Namun, narasi feminis seringkali terbatas pada perjuangan kelompok perempuan tertentu, terutama mereka yang berpendidikan atau memiliki akses terhadap sumber daya. Hal ini menciptakan hierarki dalam gerakan feminis itu sendiri, dimana perjuangan kelompok minoritas seringkali diabaikan atau dianggap tidak relevan. Misalnya, feminis kulit putih di negara-negara Barat sering mengabaikan perjuangan feminis kulit hitam dan perempuan dari kelompok etnis minoritas. Feminisme yang tepat harus bersifat inklusif dan memahami bahwa kesetaraan tidak hanya berarti kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga mengakui berbagai pengalaman dan ketidakadilan yang dialami oleh berbagai kelompok perempuan karena asal usul mereka.
Fenomena lain yang patut dikritisi adalah reduksi feminisme oleh sebagian perempuan feminis hanya sekedar simbol atau bahkan alat pemasaran. Hal ini terlihat pada berbagai produk yang mengusung slogan feminis. Alih-alih mempromosikan kesetaraan gender, feminisme seringkali digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk konsumen yang justru memperburuk kesenjangan ekonomi. Fenomena ini dikenal dengan istilah femvertisasi, dimana perusahaan menggunakan slogan-slogan feminis untuk menjual produknya, meskipun sebenarnya mereka tidak mendukung prinsip kesetaraan gender dalam praktik bisnisnya.
Contoh nyata dari fenomena ini adalah merek fesyen dan kosmetik yang mengusung slogan-slogan feminis tanpa benar-benar memperjuangkan hak-hak perempuan pekerja, khususnya di negara-negara berkembang. Alih-alih mendukung pemberdayaan perempuan, gerakan feminis yang terdistorsi ini justru mendukung kapitalisme yang eksploitatif dan merugikan perempuan di lapisan masyarakat paling bawah. Untuk mengatasi masalah ini, kaum feminis perlu merefleksikan dan mempertimbangkan kembali hakikat gerakan feminis yang sebenarnya. Feminisme adalah perjuangan untuk membangun masyarakat yang adil dan setara di mana semua orang dapat hidup bebas dan setara, tanpa memandang gender, ras, atau latar belakang sosial. Feminisme tidak boleh digunakan sebagai alat untuk membenarkan tindakan tidak adil, memanipulasi narasi, atau mencapai keuntungan pribadi.
Selain itu, penting bagi para feminis untuk mendidik diri mereka sendiri tentang isu-isu yang lebih luas seperti hak istimewa dan interseksionalitas. Pun juga bagaimana mereka dapat memperjuangkan kesetaraan sejati bagi semua kelompok perempuan. Gerakan feminis harus selalu inklusif dan adil, dengan berpegang pada prinsip-prinsip dasar kesetaraan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap hak-hak individu. Di dunia yang semakin kompleks ini, feminisme harus kembali ke akarnya, tidak hanya sebagai alat manipulasi dan simbolisme, namun sebagai gerakan yang memperjuangkan keadilan dan kesetaraan bagi semua. Inilah satu-satunya cara agar feminisme dapat terus berhasil dalam misinya untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara.

