Dermotimes.Dewasa ini, keadaan bumi mengalami penurunan kualitas dan kuantitas produksi untuk pemenuhan dalam aspek kebutuhan primer dan sekunder manusia. Secara faktual, hal yang mendasar dalam segala bentuk perkembangan baik teknologi maupun energi aspek penunjang mobilisasi manusia yang merupakan produksi alam, dimana dikategorikan dalam istilah sumber daya alam. Dalam fenomena sumber daya alam, seringkali ditafsirkan bukan hanya sebagai penunjang kebutuhan manusia secara mendasar. Akan tetapi, sumber daya alam dapat dilihat sebagai penunjang dalam aspek fiskal jika dikelola dan dimanfaatkan dalam konsep eksploitatif sebagai wujud pemenuhan bahan baku dalam industri manufaktur.
Korporasi-korporasi menjadi instrumen atau aktor dalam praktik eksploitasi sumber daya alam. Sistem kapitalisme menjadi pemicu struktural dalam tubuh legislasi sebagai stimulus dalam praktik dan sistem yuridis kenegaraan. Logika yang dibangun sistem kapital yakni mengakomodir sumber daya alam yang lahiriah atau kodrati sebagai penunjang aspek ekonomi. Sehingga secara kausalitas, ketika sumber daya alam dimanfaatkan untuk kebutuhan primer dan sekunder manusia yang kemudian menjadi sumber pendapatan yang menggiurkan karena secara kuantitas akan mengakibatkan peningkatan ekonomi yang masif. Namun, hal itu akan menciptakan tumpang tindih dalam aspek sosial, budaya dan lingkungan.
Lingkungan merupakan konsepsi mendasar dalam melihat efektifitas pemanfaatannya berdasarkan asumsi kapital. Sehingga pertimbangan ekonomi menjadi rasionalitas kebijakan untuk mengakomodir sistem yang mengatur praktik eksploitasi sumber daya alam. Namun, secara kajian atau kecamata sosial akan terjadi kontraproduktif karena lingkungan memiliki sifat koherensi dengan produk sosial yakni masyarakat. Degradasi kultural niscaya, sebab pembukaan lahan dalam proses ekspansi dalam rangka eksploitasi sumber daya alam secara langsung merubah tatanan sosial-budaya. Misalnya masyarakat pedalaman yang menggantungkan hidup dengan hasil hutan. Maka secara otomatis masyarakat menjadi korban yang dipaksa keluar dari nilai luhur atas dasar kepentingan materil yang dikonstruksi sistem kapital.
Kualitas lingkungan hidup menjadi aspek inti dalam menunjang secara materil baik dalam skala individu, kelompok dan negara. Menelisik secara spesifik pertama pada level individu, keberadaan sumber daya alam merupakan gaya pemanfaatan yang tradisionalis dan cenderung tidak bersifat eksploitatif dan destruktif. Sebab model konsumtifnya secara kuantitas tidak masif dan instrumen yang digunakan tidak membuat sumber daya alam mengalami kerusakan. Kedua pada level kelompok, di mana merupakan suatu model korporasi manufaktur yang aktif dalam eksplorasi serta eksploitasi sumber daya alam untuk pemenuhan bahan mentah yang kemudian diolah menjadi bahan baku suatu produk. Dalam hal ini, untuk pemenuhan permintaan konsumen yang tinggi, maka daya produksi akan tinggi juga. Sehingga instrumen untuk mengeruk sumber daya alam secara kuantitas besar dan otomatis mengancam stabilitas lingkungan disekitarnya. Ketiga pada level negara, puncak dari pemanfaatan sumber daya alam secara ideal diatur oleh negara. Di mana peran negara sebagai pengontrol, sehingga mencerminkan suatu pengendalian penuh salah satunya pada pemanfaatan sumber daya alam dalam bentuk regulasi. Dibalik fungsi normatif tersebut, negara mempunyai orientasi terhadap pemenuhan kuantitas fiskal negara sebagai penunjang mobilisasi pemerintahan. Sehingga untuk mendapatkannya, negara memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki yang kemudian diakomodir sebagai komoditas yang bernilai lewat bantuan instrumen kelompok (korporasi manufaktur).
Dari maraknya eksploitasi sumber daya alam atas dasar orientasi kepentingan ekonomi, maka dampak langsungnya pada keberadaan masyarakat lokal yang tinggal sekitar kawasan eksploitasi. Contohnya masyarakat adat dayak di Kalimantan dan di Papua, menjadi korban keganasan, keserakahan, serta kerakusan aktor-aktor elit yang menjadi raja dalam sistem kapital atau neo-liberal. Pergesaran struktur sosial dan budaya menjadi niscaya ketika negara lebih cenderung pada kepentingan ekonomi dan berada dibalik korporasi. Maka nilai yang dicita-citakan konstitusi dan pancasila terasa asing ketika prinsip-prinsip kenegaraan hanya memandu kepentingan ekonomi semata tanpa melirik produk sosial dan lingkungan. Nampak jelas konflik antara masyarakat adat dengan pihak korporat sangat masif terjadi, dan negara tidak jelas keberadaan keberpihakannya terhadap rakyat sebab kepentingan ekonomi diatas segalanya dan sekalipun adanya peningkatan tidak efektif terhadap kehidupan masyarakat secara umum.
Ciri-ciri tersebut akan menggiring posisi kelas yang kaya dan miskin pada skala ketimpangan yang nyata. Pada prinsip kapitalis, itu adalah keniscayaan sistem kompetitif yang sedari awal dibangun sedemikian rupa. Sumber daya alam menjadi korban di atas dampak positif yang diberikannya pada pihak yang berada dibalik indahnya kata pemanfaatan yang sebenarnya adalah penjarahan atas kepentingan beberapa pihak. Negara dan oligarki kapitalis menjadi duo yang mematikan dalam konteks ini, sebab kerjasama terselubung atau invicible hand yang bermain sebagai penentu kebijakan oleh pemerintah. Dalam hal ini, akan tercipta yang namanya The Distruction Triangle di mana masyarakat dan sumber daya alam merupakan korban eksploitatif sosial dan kekayaan alam. Untuk posisi puncak adalah oligarki kapitalis sebagai perusak sistem pemerintahan karena intervensi politiknya untuk kepentingannya sendiri dan sekaligus perusak pada domain masyarakat dan sumber daya alam.
Ekonomi politik adalah produk penjarahan baru atau neo-kolonialisme yang secara garis besar lingkup distribusi ide-ide neo-liberal untu penguasaan dan eksploitasi sumber daya alam. Maka tak heran, dunia saat ini siapa yang memiliki sumber daya alam melimpah akan terus diintervensi. Timur tengah jadi fokus teropong pada kasus secara faktual. Di mana timur tengah diperas habis-habisan sampai mencapai titik klimaksnya dengan hadirnya perpecahan dan konflik tidak bisa terelakkan. Dunia hari ini melihat ASEAN pada umumnya dan Indonesia pada khususnya sebagai lahan basah karena keberadaan sumber daya alam yang melimpah. Maka kerusakan-kerusakan yang dilihat hari ini merupakan agresifitas pihak-pihak yang berkepentingan yakni oligarki kapitalis yang secara tidak langsung mengadu domba negara dan rakyatnya sendiri.

Editor by Dermotimes
