Dermotimes.id-UMKM atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan bentuk kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil, dengan kriteria berdasarkan kekayaan bersih, hasil penjualan tahunan, serta kepemilikan atau pengelolaanya dimiliki oleh perorangan maupun komunitas. Seperti namanya usaha ini dijalankan secara mikro dimana barang-barang atau produk yang dihasilkan hanya berskala rumahan, kebanyakan produk yang dihasilkan oleh usaha UMKM ini adalah kerajinan tangan. Berdasarkan data yang diperoleh, di Indonesia sendiri peranan perempuan dalam perekonomian semakin hari makin signifikan. Pada sektor Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM) 53,76% pelaku usahanya perempuan dan 97% pekerjanya pun perempuan. Sementara itu, kontribusi UMKM dalam perekonomian nasional ialah 61%. Pada bidang investasi, kontribusi Perempuan. 60%. Jadi tidak mengherankan jika UMKM lokal di Indonesia banyak melibatkan perempuan.
Binongko atau yang dikelanl juga sebagai Pulau Tukang Besi, merupakan pulau paling ujung dari gugusan kepulauan Wakatobi sebuah kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Di pulau ini terdapat banyak sekali usaha-usaha rumahan atau UMKM lokal yang berpotensi besar namun kurang terekspos, salah satunya adalah usaha sarung tenun khas Binongko atau dalam bahasa lokal adalah Homoru. Homoru merupakan kegiatan menenun yang dilakukan oleh Perempuan Binongko, dan usaha ini merupakan usaha turun temurun. Dalam satu kali pengerjaan Homoru biasanya pengrajin membutuhkan waktu selama 2-3 minggu tergantung seberapa sering para penenun menggerjakan Homoru. Dalam Masyarakat adat Binongko sarung tenun juga diibaratkan dengan cinta karena di sepanjang penggerjaan tenun membutuhkan tingkat kesabaran dan keuletan tersendiri serta disetiap helai benangnya menyimpan cerita. Sarung tenun Binongko juga memiliki berbagai macam motif, beberapa motif yang digunakan juga melambangkan strata seseorang dalam masyarakat. Antara lain adalah Kapipi merupakan pakaian khas Perempuan Binongko, pakaian ini hanya di pakai oleh Perempuan yang sudah menikah, dalam budaya Masyarakat Binongko Perempuan bangsawan mengunakan kapipi yang dipadukan dengan bawahan sarung tenun yang memiliki motif hitam dan putih. Sedangkan Perempuan yang bukan dari kalangan bangsawan kapipi yang digunakan cenderung memiliki warna-warna yang cerah seperti kuning atau hijau.

Kapipi untuk Perempuan Bangsawan (kiri) Samasili Ragi Tooha untuk Laki-laki Bangsawan (kanan)
Ada juga sarung yang digunakan oleh para lelaki yakni motif Ragi tooha atau samasili dimana yang membedakan dengan motif yang dikenakan oleh Perempuan adalah memiliki garis yang lebih tegas membentuk kotak sedangkan yang digunakan oleh Perempuan adalah motinya cenderung lebih halus karena hanya memiliki garis horizontal. Yang menarik dari semua jenis sarung tenun ini adalah cara menenunya Dimana pada awal menenun dikenal dengan proses oluri atau memasukan benag satu persatu kedalam alat tenun atau dalam bahasa lokal adalah jangka, dalam proses ini membutuhkan Kerjasama 2 atau 3 orang.

Leja Moane (kiri) dan Kapipi untuk Perempuan bukan Bangsawan (kanan)
Mahasiswa PMM UMM 68 dalam usaha mengenalkan sarung tenun khas Binongko ini melakukan kegiatan photography atau foto outdoor, kegiatan pengambilan gambar yang dilakukan memakan waktu selama tiga hari mulai dari pengumpulan sarung khas Binongko dari para pengrajin tenun hingga pada pengambilan gambar yang dilakukan dibeberapa tempat wisata di pulau Binongko. Telent atau model yang terlibat dalam program kerja ini berasal dari anggota kelomppok 68 itu sendiri muali dari Fotografer hingga team style list. Setelah pengambilan gambar selesai dilakukan selanjutnya foto-foto tersebut digunakan untuk dijadikan konten promosi wisata dan juga sebagai katalog dari usaha UMK lokal sarung tenun.
