Arahan Senior : Bukti Kemandulan Gerakan Mahasiswa Melawan Oligarki

Dermotimes.id- Konon mahasiswa adalah simbol dari pembangkitan semangat dan perubahan. Namun, dalam realitas yang lebih sinis, esensi itu sering kali tampak seperti sebuah mitos yang digembor-gemborkan di seminar, orasi bergengsi dan artikel-artikel akakdemis. Bayangkan saja, dengan gagah berani mereka mengibarkan bendera revolusi sambil menyesap kopi mahal di kafe sekitar kampus, mereka mengklaim akan merombak dunia. Di balik jargon-jargon besar dan aksi simbolik yang sering kali tak lebih dari parade pemikiran, terhampar kenyataan pahit. Seorang mahasiswa modern sering kali lebih terjebak dalam labirin tugas, ujian dan organisasi yang membosankan, daripada benar-benar mengguncang status quo. Jadi, apakah esensi mereka terletak pada retorika cemerlang yang terucap di ruang-ruang rapat, atau justru pada ketidakberdayaan untuk menembus rutinitas yang membelenggu mereka?

Sebentar, sabar. Baru saja pembuka, tulisan ini dicoret sehari setelah aksi demonstrasi besar-besaran di seluruh penjuru negeri.Mari kita mulai dengan sebuah adegan yang mungkin terasa familiar bagi banyak orang. Dalam sebuah ruangan berukuran sepuluh kali sepuluh meter, dengan lampu neon tak begitu terang dan kursi yang tak pernah merasakan kesetiaan, berkumpul para mahasiswa dengan harapan yang berkisar antara setengah matang dan bervariasi. Seorang mahasiswa penuh semangat yang baru saja bergabung dengan organisasi kemahasiswaan, dengan mata berbinar dan idealisme yang menggebu, Mereka datang untuk mendengarkan “arahan senior”, figur-figur yang konon mengetahui seluk-beluk kekuasaan seperti mereka tahu resep rahasia kue lapis. Namun, seperti yang sering terjadi, mereka malah disuguhi bualan yang lebih mirip dengan ceramah pelajaran tata busana daripada strategi revolusi, alih-alih mendapatkan petunjuk bintang dari bintang pemandu, mereka justru dihadapkan pada rentetan kalimat bagaikan puisi abadi tentang kebosanan.

“Saat ini, tugas kita adalah…” Begitu kata-kata pertama keluar dari mulut sang senior, mahasiswa pun terhanyut dalam gelombang harapan semu, berharap menemukan secercah ide revolusioner di tengah puisi yang melankolis. Namun, apa yang mereka dapatkan hanyalah pesan yang nyaris tak berbobot, seperti bagaimana cara mengurus formulir-formulir pencalonan organisasi kampus atau mungkin bertindak licik ke mahasiswa yang tak sebarisan dengan mereka.

Sementara mahasiswa yang duduk di bangku empuk berusaha keras untuk tidak menguap, ide-ide brilian yang terkubur berusaha ia gali, rutinitasnya yang langsung berpulang menuju kos kecilnya, sering disematkan pada dirinya “Mahasiswa Kupu-kupu”. Rasa-rasanya itu lebih bijak dan produktif daripada menjadi organisatoris yang doyan menelan arahan senior, yang lebih mirip dengan peta buta menuju hutan kemuliaan, menjerumuskan mereka ke dalam perputaran yang sama      sekali tidak ada hubungannya dengan pertarungan melawan kekuatan oligarki. Alih-alih menghadapi tokoh-tokoh oligarki yang berkuasa, mereka diajak berselingkuh dengan kekuasaan sekaligus mengidolakan “ masuk ini barang! ”

Satu per satu, pertanyaan mahasiswa pun menjadi lebih konyol. “Bagaimana kita bisa mempercepat persetujuan senior untuk aksi perlawanan besok?” tanya salah satu dari mereka, seolah-olah proses ini adalah kendala utama dalam melawan tirani. Pertanyaan seperti ini menggambarkan betapa terjebaknya mereka dalam lingkaran sandra senior.

Lagi, ironisnya para senior ini yang seharusnya menjadi pelopor perubahan, tampaknya lebih nyaman disembah dan puja junior-juniornya karena wajah tampannya terpampang di baliho calon legislatif mendatang. Daripada terjun ke lapangan dan menghadapi realitas kekuasaan. Dalam benak mereka, strategi untuk melawan oligarki tampaknya berkisar pada “pembagian jatah” dan “penyusunan tim sukses”. Apakah ini yang dinamakan inovasi dalam gerakan mahasiswa?

Lambat laun, sudah menjadi keharusan mahasiswa mulai memahami bahwa arahan yang mereka terima bukanlah petunjuk revolusi, melainkan panduan untuk mengelola kekacauan internal dengan penuh gaya dan tanpa substansi.

“ Arahan senior ” ini menunjukkan bahwa bukti kematian gerakan mahasiswa tidak selalu datang dalam bentuk kekalahan langsung di lapangan. Tidak melulu hanya perkara tidak pernah melaksanakan program kerja. Kadang-kadang, ia datang dalam bentuk pemborosan energi yang terjebak dalam rutinitas yang konyol “Tunggu arahan senior dulu”. Ketika mahasiswa disibukkan dengan hal-hal demikian, mereka lupa mengingat alasan sebenarnya mereka berada di sini bukan untuknya dirinya sendiri melainkan perwakilan dari rakyat yang merasa diwakilkan maupun yang tidak merasa diwakilkan.

Hadapi kenyataan pahit ini. Ketika gerakan mahasiswa berubah menjadi rutinitas yang tidak berdaya, kita tahu bahwa perubahan yang mereka klaim perjuangkan hanyalah ilusi. Bukankah sudah saatnya kita berhenti mengikuti arahan yang mati dan mandul ini dan mulai kembali ke inti perjuangan yang sebenarnya?

Cogitationis poenam nemo patitur ”

Tiada seorangpun yang dapat dihukum atas apa yang dipikirkannya

 

Penulis: Yudhistira Ananta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *