DermoTimes.id,Opini-Berbicara mengenai perempuan banyak sekali pengertian maupun pandangan mengenai tentang dari tulang rusuk laki-laki ini, tetapi secara sederhananya perempuan dapat diartikan makhluk lemah baik secara fisik dan psikis. iya itulah mungkin sering kita dengar mengenai makhluk yang satu ini, padahal secara epistimologi perempuan berasal dari kata per-empu-an yang artinya “ahli/mampu”, jadi perempuan merupakan seorang yang mampu melalukan sesuatu, namun pandangan-pandangan buruk menjadi hal yang melekat yang ada diperempuan selama ini dibandingkan degan pengertian baiknya, lantas menjadi pertanyaan bagi kita semua siapa yang menciptakan stigma kepada makhluk ini, mengutip dari buku Pram mudiatno yang berjudul gadis pantai mengatakan bahwa stigma itu ditimbulkan oleh feodalisme laki-laki jawa, maka jika kita tafsirkan secara spesifik ketidak inginan seorang laki-laki akan seorang perempuan sama dengan dirinya apalagi sampai lebih tinggi darinya, oleh sebab itulah stigma itu dijadikan dogma oleh laki-laki untuk mengekang serta menindas seorang perempuan, akibatnya ketika kita melihat seorang perempuan direndahkan ditindas oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan menganggap hal tersebut wajar-wajar saja.
untuk kita mengetahui ketidak setaran yang dialami perempuan selama ini maka kita harus tahu terlebih dahalu mengenai hakekat manusia dalam Al-Qur’an Q.S. Al-Mukminin:12-14; “Dan sungguh, kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal dari tanah. kemudian kami jadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (Rahim) kemudian , air mani itu kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belelung, lalu tulang belulang itu kamu bungkus dengan daging. Kemudian; kamu jadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik. kemudian dalam Q.S. Al-Naml:33 “mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan” maka jika kita maknai perempuan juga memiliki peranan serta pengaruh yang sangat luar biasa dalam pergerakan atau perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan ini, lantas menjadi pertanyaan pula kenapa perempaun selalu direndahkan dan bagaimana perempuan harus mengubah stigma tersebut?.
ketidak setaraan yang dialami perempuan ini seharusnya membuat dirinya menjadi seorang pelawan yang selama ini dirinya dialami, di Indonesia sendiri sudah pernah memiliki seorang tokoh perempuan yang memperjuangka hak-hak perempuan yaitu adalah RA, Kartini yang anekdotnya yang sangat fenomenal “ yaitu habisla gelap terbitlah terang” anekdot ini adalah sebuah ungkapan oleh Kartini bahwa perpuan bukanlah seorang yang hanya memikirkan sumur, dapur, melahirkan, tetapi disini Kartini mengabarkan bahwa perumputan bukanlah demikian melainkan perempuan dapat pendidikan, dapat berpolitik, dapat menentukan kemauannya berdasarkan atas pikirannya. Selain RA. Kartini ialah cut nyakden seorang pahlawan perempuan yang berjuang melawan penjajah atau colonial cut nyakden tidak gentar atau bahkan mundur dengan serbuan peluruh yang datang, melainkan cukyakden tetap berjuang untuk kemerdekaan Indonesia sampai meninggal di medan pertempuran.
adapun pula stigma bagi seorang perempuan adalah tidak mampu untuk terlibat dalam dunia politik, padalah jika kita melihat dalam sejarah perempuan berpolitik bukanlah hal yang baru, sebut saja perkumpulan perempuan yang bernama gerwani, gerwani adalah organisi pertama di Indonesia yang memperjuangkah hak-hak perempuan untuk mendapatkan keadilan, dau hal yang menjadi tujuan dari organisasi ini adalah, pertama perempuan dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuannya guna dapat mengatur dirinya sendiri sehingga tidak lagi ditindas atau direndahkan oleh laki-laki, hal tersubut berdampak positif bagi kehidupan perempuan pada waktu itu dimana perempuan selalu bergantung pada laki-laki dalam hal keuangan, namun dengan pemberdayaan gerwani pada perempuan dapat menghasilkan uang sendiri sehingga tidak lagi kawatir menganai kebutuhannya. kedua memberikan edukasi pentingnya perempuan untuk terlibat dalam politik dan memperjuangkan hak-hak perempuan melalui politik, hal ini pula berdampak positif bagi perempuan mengubah stigma bahwa perumpuan tidak bisa-bisa berpolitik, namun dengan adanya gerwani ini membuktikan bahwa perumpuan juga bisa berpolitik sama halnya dengan laki-laki.
stigma yang sering kita dengar tentang perempuan juga bahwa perempuan hanya dapat melakukan 4 (M) yaitu. melahirkan, mengandung, menyusui, memasak, oleh sebab itu tidak jarang kita mendengar bahwa perempuan janganlah menuntut ilmu tinggi-tinggi buang banyak uang saja, nanti pada akhirnya juga hanya jadi ibu rumah tangga. Padahal perempuan memiliki peran yang sangat esensial bagi pertumbuhan anaknya sebab perempuan adalah sekolah pertama atau madrasatul ula bagi anak-anaknya dengan demikian penting sekali seorang perempuan untuk menuntut ilmu setinggi-tingganya, sebab hal tersebut dapat menyadarkan serta menumbuhkan sikap optimisme bagi anak-anaknya agar menjadi anak yang soleh dan soleha serta menjadi anak yang mandiri. kemudian pula mengutip Sya’ir Arab “Perempuan adalah tiang negara, bila kaum perempuannya baik (berahlakul karimah) maka negaranya baik dan bila perempuannya rusak (mazmumah) maka rusaklah negaranya” berdasarkan Sya’ir ini dapat kita maknai bahwa jika indonesia ingin menjadi negara maju maka perempuan adalah indikator untuk mencapainya, maka dari itu pentingnya perempuan untuk memainkan peran strategis dalam wewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. untuk terlibat dalam mewujudkan masyarakat adil makmur itu maka penting bagi perempuan untuk memiliki pendidikan yang baik pula guna memiliki ide serta gagasan sehingga mampu terlibat untuk wujudkan keadilan sosial dan keadilan ekonomi bagi masyarakat. maka agar perempuan ahli atau mampu ikut serta kolektif dalam wujudkan kesejahteraan bagi masyarakat munculah organisasi-organisasi perempuan gerakan perempuan seperti Pikat, Putri Mardika, Gerwani, Aisyiah yang nanti cikal bakal diselenggarakannya Kongres Perempuan 1 tahun 1928 di Yogyakarta,
kemudian gerakan perempuan tersebut nantinya memiliki kolerasi dengan dibentuk Kohati oleh HmI, pembentukan kohati sebagai penyeimbang untuk mengawal masalah-masalah yang berkaitan degan keperempuanan, selain itu tujuan dibentuknya Kohati adalah untuk meningkatkan kualitas dan peranan HmI-Wati dalam perjuangan untuk mencapai tujuan HmI pada Umumnya dan perempuan khususnya, Keterlibatan Kohati dalam menyelesaikan atau permasalah bangsa ini sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, seperti mencerdaskan kehidupan bangsa, membela perempuan yang mengalami kekerasan, turut berperan aktif dalam mensukseskan demokrasi di Indonesia, dll.
Penulis : Alnora Mae, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

