Transformasi Konflik: Destinasi Wisata Menegangkan di Perbatasan Semenanjung Korea
Dermotimes.Pada 27 Desember 2022 bertepatan dengan 77 tahun pemisahan wilayah di Semenanjung Korea menjadi Korea Selatan dan Korea Utara. Pemisahan wilayah ini ditandai dengan adanya garis pemisah zona demiliterisasi atau biasa disebut dengan DMZ yang bertempatkan di Panmunjom. Sejarah panjang yang mengantarkan adanya garis pemisah semenanjung Korea dalam sejarahnya tidak terlepas dari momentum Jepang yang menyerah kepada sekutu setelah kejadian bom Hiroshima-Nagasaki pada tahun 1945. Dalang dibalik menyerahnya Jepang merupakan strategi Amerika Serikat untuk memenangkan perang dunia kedua.
Perang dunia kedua menjadikan Uni Soviet dan Amerika Serikat memperebutkan kemenangan dengan tujuan menciptakan ideologi yang diusung. Uni Soviet dengan ideologi komunis, sedangkan AS dengan ideologi nasionalis-liberalnya. Dua karakteristik ideologi Negara superpower yang bertolak belakang dalam perang dingin tersebut menjadi salah satu penyebab pemisahan wilayah selatan dan utara di Korea. Banyak faktor yang mempengaruhi ketegangan hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan seperti; perbedaan ideologi yang merupakan akar konflik kedua Negara, ketegangan dua negara diperparah lagi dengan sensitifitas masalah kedaulatan antara kedua Negara menghasilkan deterrence effect yang muncul akibat adanya intervensi dan uji coba senjata nuklir milik Korea Utara di perbatasan Semenanjung Korea. Buah dari perebutan kekuasaan Uni Soviet dan AS berujung pada didirikannya Republik of Korea di wilayah selatan dengan Presiden perta yang terpilih yaitu Rhee Syng Man. Rhee Syng Man dikenal sebagai tokoh penting dalam nasionalisasi Korea Selatan. Pengesahan Republik of Korea pada tanggal 15 Agustus 1948.
Tak mau kalah, Republik Demokratik Rakyat Korea Utara mendeklarasikan kemerdekaanya pada tanggal 9 September 1948. Korea Utara mengedepankan frasa “demokratik” meskipun pada realitanya, negara tersebut memiliki nilai demokrasi yang rendah menuju otoriter. Presiden pertama yang menjabat adalah Kim Il-Sung. Ibu Kota yang dipilih adalah daerah Pyongyang. Meskipun telah memerdekakan wilayah masing-masing, konflik sengit antar dua wilayah tersebut tidak dapat dibendung sehingga pada Juli 1950, Perang Korea pecah karena keegoisan Korea Utara yang mengirimkan pasukan tentaranya di wilayah 38 derajat lintang utara. Turunnya pasukan militer ini bertujuan untuk merebut kembali Korea Selatan dibawah satu negara Korea yang berideologikan komunis. Korea Utara dalam menjalankan misi ini dibantu oleh negara-negara komunis bekas Uni Soviet dan Cina. Tentunya, AS yang berada dipihak Korea Selatan tidak tinggal diam.
Pengaruh kehadiran AS dan China dalam masalah politik di kawasan Asia Timur terutama di Semenanjung Korea memperlihatkan adanya perbedaan-perbedaan yang tajam, dari rezim dan sistem sosial kedua negara tersebut saling mempengaruhi turut menjadi hambatan penyelesaian konflik di Semenanjung Korea. PBB melihat konflik ini mengirimkan pasukan perdamaian di kedua perbatasan Korea. Gencatan senjata dari kedua negara tersebut diakhiri pada tahun 1953. Kerugian yang dicapai keduanya membuat perang terhenti dan dan kedua kepala negara membentuk dialog perdamaian dengan mengesahkan zona demiliterisasi sebagai zona penyangga kedua negara tersebut.
Pada tahun 2018, Presiden Korea Selatan, Moon Jae In bertemu dengan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un melakukan dialog perdamaian dan saling menjabat tangan untuk pertama kalinya sebagai penanda upaya perdamaian dari kedua negara tersebut. Kedua Presiden tersebut sepakat untuk membuka DMZ menjadi destinasi wisata bagi khalayak umum yang tentunya diikuti oleh peraturan-peraturan yang sangat ketat bagi masyarakat sipil biasa. Tour yang dibuka ditawarkan dilansir dari VisitKorea menawarkan kunjungan ekslusif yang hanya berjarak 4 km dari Korea Utara. Pengunjung melalui kaca pembesar dapat melihat secara langsung kondisi negara Korea Utara yang cukup Kontras dengan Korea Selatan. Koreas Selatan identik dengan gedung-gedung pencakar langit, sedangkan di Korea Utara berisikan lendaraan-kendaraan tempur. Terdapat Salah satu monumen penting Bridge of Freedom merupakan jembatan penghubung dua negara saudara yang kini telah terpisah.
Di akhir Perang Korea tahun 1950, kondisi zona demiliterisasi saat itu sangat buruk akibat perang, Jembatan ini merupakan satu-satunya akses darat yang dapat dilalui bagi masyarakat Korea Selatan untuk kembali ke negaranya. Itulah mengapa jembatan ini disebut sebagai jembatan kebebasan. Bridge of Freedom saat ini sudah dibarikade dengan kawat-kawat besar sehingga tidak ada lagi masyarakat sipil yang dapat melewatinya. Pada bangunan bersejarah tersebut sepanjang Jembatan kebebesan yang diisi oleh kawat-kawat barikade tersebut warga Korea Selatan mengikatkan pita berwarna-warni dengan tulisan yang berisi harapan bersatunya Korea Selatan dan Korea Utara yang lebih damai dan tidak saling mengancam satu sama lain.Selain itu, destinasi wisata Imjingak Resort juga menawarkan alat-alat observatorium yang dilengkapi dengan teropong untuk mengintip wilayah Korea Utara. Dilansir dari salah satu agen travel DMZ ini menyebutkan bahwa setiap tahun, diadakannya acara-acara perayaan yang bertema Unifikasi Korea yang diselenggarakan di zona DMZ ini.
Menurut penulis, transformasi konflik dari pecahnya perang korea yang menyebabkan pemisahan wilayah Korea Selatan dan Korea Utara dengan ketegangan yang super tinggi akibat ancaman senjata nuklir dari Korea Utara di zona demiliterisasi ini kemudian dijadikan peluang perdamaian melalui monument-monumen penting dan dibukanya wisata DMZ ini sebagai sumber kerjasama ekonomi antara Korea Selatan dan Korea Utara untuk menilik bagaimana perbedaan kehidupan yang condong pada isolasionistik dan komunis dengan kehidupan Negara yang liberal. Transformasi konflik yang dibentuk menjadi sebuah destinasi wisata yang cukup menarik dan menegangkan menjadikan transformasi ini berubah menjadi peluan sumber pemasukan ekonomi kedua negara. Hal yang unik dan kontras yang akan diperlihatkan dari kedua sisi negara tersebut menjadi daya tarik wisatawan yang suka pada sejarah dan tantangan.

Editor By Tim Dermotime
