Dermotimes.id– Baru-baru ini semakin banyak orang yang menggunakan teknologi dalam berbagai aspek kehidupannya, tidak mengherankan jika dunia pendidikan pun ikut mengadopsi inovasi-inovasi tersebut. Salah satunya penggunaan kecerdasan buatan AI dilingkungan perkuliahan. Pancasila bersifat dinamis menerima segala perubahan yang terjadi termasuk dengan muncul nya teknologi kecerdasan buatan atau yang lebih dikenal dengan AI. Lantas apakah dengan adanya AI ini justru menyebabkan turun nya nilai moral atau kejujuran dikalangan mahasiswa?
Artificial Intelligence (AI) merupakan sebuah teknologi komputer yang mampu menjawab pertanyaan secara cepat. Dengan adanya kelebihan tersebut, AI sering digunakan karena tidak membutuhkan waktu yang lama, khususnya mahasiswa sering menggunakan AI dalam proses belajar atau menyelesaikan tugas apabila terdapat beberapa soal yang tidak mereka pahami. Selain itu, dengan adanya AI ini mereka justru memiliki ketergantungan kepada teknologi tersebut sehingga minat terhadap membaca buku menurun dan AI dianggap menurunkan moral mahasiswa terkait dengan nilai kejujuran yang terdapat pada sila pertama dalam Pancasila.
Menurut Ali Roziqin M.PA selaku Dosen Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus Ketua Laboratorium Ilmu Pemerintahan mengatakan bahwa “AI itu tidak dapat kita hindari,karena merupakan suatu perkembangan teknologi, tetapi seorang mahasiswa atau manusia itu harus memiliki nalar kritis yang diharapkan muncul atau tidak tereduksi ketika menggunaan AI”. Akan tetapi kenyataannya mahasiswa sekarang seperti mentuhankan AI sebagai jaminan terhadap nilai di perkuliahan, jelas sikap tersebut sangat bertentangan dengan nilai Pancasila. AI mungkin membantu meringankan pekerjaan mahasiswa namun kita tidak sepenuhnya percaya bagaimana AI memberikan sebuah jawaban yang dijelaskan secara general atau umum sehingga dalam mendapatkan jawaban atau informasi dinilai tidak akurat karena kurangnya sumber yang jelas darimana jawaban tersebut ada, sehingga itulah kelemahan dari AI.
Melihat fenomena tersebut, AI dianggap menghalangi mahasiswa untuk berpikir secara kritis dan tidak mau berusaha secara mandiri serta AI tidak akan dapat membantu mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas dan imajinasi mereka. Mengingat bahwa bantuan yang AI berikan hanya bersifat repetitif dan tidak akan mendorong mahasiswa untuk berpikir out of the box.
Berikutnya, AI dapat melacak kinerja mahasiswa, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang privasi dan keamanan secara etis di dunia pendidikan, berikut beberapa argumen bahwa AI merupakan ancaman bagi nilai-nilai Pancasila:
1.AI menyebabkan hilang nya kejujuran mahasiswa dalam menyelesaikan tugas atau pada saat ujian sehingga dianggap bertentangan dengan nilai Pancasila tepatnya pada sila pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa.
2.AI yang secara terus menerus dijadikan mahasiswa sebagai “Tuhan” mereka dalam menyelesaikan tugas, sehingga dianggap mengurangnya kerja mahasiswa yang dikemudikan oleh teknologi AI, hal ini jelas tidak adil dan menurunkan derajat kemanusiaan sehingga bertentangan dengan nilai Pancasila pada sila kedua yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
3.AI sering memperkuat algoritma individu dibanding kelompok, sehingga munculnya sikap individualis bagi mahasiswa yang di anggap bertentangan dengan nilai Pancasila pada sila ketiga yaitu “Persatuan Indonesia”
4.AI yang didalam nya terdapat informasi yang belum jelas dari mana asalnya menyebabkan rawan akan informasi bohong atau hoax, terjadinya propaganda atau ujaran kebencian sehingga merusak nilai musyawarah dan kebijaksanaan dalam pengambilan sebuah keputusan, sehingga bertentangan dengan nilai Pancasila pada sila keempat yaitu “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”
5.AI dianggap tidak adil karena adanya perbedaan nilai dari canggihnya jawaban mahasiswa melalui AI dan jawaban melalui buku atau opini seorang mahasiswa sehingga dianggap bertentangan dengan nilai Pancasila pada sila kelima yaitu “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”
Dari beberapa poin diatas jelas bahwa AI sangat mengancam nilai Pancasila karena semakin canggihnya teknologi dan mahasiswa yang berpikir bahwa jawaban cepat dari AI dianggap sangat efektif serta instan bagi mereka, hal ini lah yang menyebabkan krisis moral semakin tinggi di Indonesia dengan bukti terlalu percaya dengan canggih nya teknologi tanpa memfilter atau mengkontrolnya terlebih dahulu.
Maka dari itu, Ali Roziqin M.PA berharap penggunaan AI ini digunakan sesuai fungsinya, dalam artian bearti AI digunakan sebagaimana mestinya seorang mahasiswa yang tanda kutip tidak berbuat curang atau membahayakan, dimana banyak orang mengkhawatirkan bahwa AI digunakan dalam hal-hal yang tidak bagus, karena AI akan menjawab semua pertanyaan yang diberikan kepadanya.
Melihat fenomena maraknya penggunaan teknologi tersebut, diharapkan bijaklah dalam menggunakan AI dan tetap memfilter jawaban dari teknologi tesebut serta jadikan AI ini hanya sebagai alat bantu bukan sebagai pengganti. Selain itu, peran pemerintah dan lembaga pendidikan juga perlu mengawasi dan mengevaluasi apabila AI ini dianggap mengancam moral bangsa khususnya mahasiswa yang dimana akan menentukan bagaimana arah masa depan Indonesia kedepan.
Penulis : Artika Mia S, Nayla Safa S, Jorin Kelabetme, Zayanti I, Gusti Abdul Al-Aqib, Mochammad Bagastya P P
