Batik Tawangagung, Warisan Leluhur Yang Hidup di Setiap Goresan Canting

Kelompok Praktikum NEXA Bersama Khafivatul Fikriyah


Dermotimes.id – Pesona Batik Tawangagung, menghidupkan kembali kisah desa tempat lahirnya, sehingga menjadikannya sebagai bagian dari sejarah yang dekat dan bisa dirasakan oleh berbagai generasi.

Masyarakat desa memutuskan untuk tidak menjadikan cerita leluhur hanya sebagai pengisah lisan. Mereka mengubahnya menjadi karya batik yang bisa disentuh, dipakai, dan diwariskan.

Dari semangat ini lahirlah Batik Tawangagung sebagai sarana untuk bercerita tentang desa, alam, dan manusia yang hidup di dalamnya.

Desa Tawangargo terletak di kaki Gunung Arjuno, sebuah wilayah yang telah menjadi tempat tinggal para leluhur seperti Mbah Kisdomu, Mbah Surbo, dan Mbah Sarpo.

Mereka membangun komunitas yang hidup beriringan dengan alam dengan cara melibatkan alam dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Sampai saat ini, sembilan mata air yang ada di desa masih mengalir, menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekaligus melambangkan keseimbangan antara manusia dan lingkungan sekitarnya.

Dari kekayaan sejarah dan alam yang ada, Khafivatul Fikriyah memulai usaha Batik Tawangagung dengan tujuan mengangkat nilai-nilai lokal Tawangagung.

Ia melihat batik bukan hanya sekedar kain, tapi juga seperti arsip budaya yang mencatat perjalanan desa, nilai-nilai dari nenek moyang, serta hubungan manusia dengan alam.

Setiap motif batik tercipta dari pengamatan terhadap lingkungan sekitar yang diubah menjadi pola sehingga memiliki makna yang terkandung di dalamnya.

Karya Batik Khafivatul Fikriyah


Batik Tawangagung telah membuat banyak motif yang terinspirasi dari kekayaan tumbuhan dan hewan lokal di Desa Tawangargo.

Motif Sekar Sumebyar, menuangkan bentuk bunga bougainvillea yang dicampur dengan bunga mawar, daun, dan garis-garis, sehingga terlihat anggun dan menarik.

Motif Sagonan Wetan, mengambil bentuk tanaman sagu yang merupakan tanaman khas dari Maluku, dengan latar berwarna coklat kemerahan dan pola berwarna krem, sehingga membuat kain batik terlihat elegan dan cocok dipakai oleh pria maupun wanita.

Selain itu, motif awal yang menjadi ciri khas Batik Tawangagung, yaitu Tirta Sari, mewakili arti kehidupan yang tergambar dalam setiap pola dan goresan yang dibuat.

Para perajin batik Tawangagung sengaja menjaga tradisi mereka dengan memproduksi batik secara manual tanpa menggunakan mesin.

Mereka membuat pola, mencanting, mewarnai, dan mengeringkan kain secara langsung di tempat produksi mereka.

Proses ini menjaga hubungan yang erat antara karya seni dan kehidupan sehari-hari, serta memastikan setiap kain batik memiliki sentuhan pribadi, ketelitian, dan kesabaran.

Batik Tawangagung membagi produknya menjadi tiga kategori harga agar bisa memenuhi berbagai kebutuhan pelanggan.

Kategori pertama, Batik Sae Daily sebagai batik yang cocok digunakan sehari-hari, berada di kisaran harga Rp250.000 sampai Rp400.000.

Kategori kedua, Batik Essence yang menekankan kekuatan motif serta maknanya, dijual dengan harga Rp400.000 hingga Rp550.000.

Kategori ketiga, Batik Sae Heritage, yang merupakan batik dengan nilai sejarah serta detail yang lebih dalam, diharga mulai dari Rp550.000 sampai Rp1.000.000.

Dengan terus menjaga proses tradisional dan memperkuat cerita lokal, Batik Tawangagung tetap hadir sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya yang membentuk identitas Desa Tawangagung.

Setiap kainnya menyimpan cerita mengenai asal mula, alam, dan orang-orang yang menjaganya.

Dengan demikian, Batik Tawangagung tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga meneruskan nilai-nilai lokal agar tetap hidup dan relevan bagi generasi masa depan.

Sumber: Press Release, Kelompok Praktikum NEXA, Public Relation, Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang.

Editor: Previari C. Sukmono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *