Dermotimes.id– Batik Tawangagung, merupakan warisan budaya Malang yang semakin berkembang. Batik Tawangagung merupakan karya seni wastra yang berakar dari kearifan lokal.
Batik khas yang lahir dari alam serta kehidupan masyarakat Desa Tawangargo, Kabupaten Malang, ini mengusung motif utama Tirta Sari, dimana motif ini terinspirasi dari sembilan mata air alami yang merupakan sumber utama kehidupan warga setempat.
Motif tersebut melambangkan aliran air sebagai simbol kehidupan, kesuburan, serta keharmonisan dengan alam.
Melalui filosofi ini, Batik Tawangagung menjadi identitas khas Malang yang memiliki karakter dan makna yang kuat, dan berbeda dari batik daerah lain.
Perajin lokal dari Desa Tawangargo memegang peran utama dalam proses pembuatan batik ini. Mereka tidak hanya membuat kain batik, tetapi juga menjaga dan mengembangkan nilai budaya yang terkandung dalam setiap pola yang mereka buat.
Usaha untuk melestarikan batik ini juga turut didukung oleh masyarakat setempat dan pihak-pihak terkait.
Hal ini bertujuan agar Batik Tawangagung tetap bisa dipertahankan sepanjang waktu.
Batik ini bukan sekedar kain, melainkan simbol kekayaan budaya.
Motif Batik Tawangagung menggabungkan tradisi dan estetika modern, menghasilkan produk batik yang tradisional dan cocok untuk berbagai kebutuhan fashion dan souvenir.

Motif Batik Tawangagung Sae
Produk ini menggunakan teknik batik tulis yang membutuhkan keterampilan tinggi dan kesabaran, menjadikan setiap lembar kain unik dan bernilai seni tinggi.
Batik Tawangagung berasal dari Desa Tawangargo, Kabupaten Malang, sebuah daerah yang terkenal memiliki sembilan sumber mata air alami.
Semua proses pembuatan batik dilakukan secara langsung oleh para perajin di dalam lingkungan desa, sehingga batik ini berkembang bersamaan dengan kehidupan alam dan masyarakat setempat.
Batik Tawangagung menjadi identitas baru khas Malang yang mulai diperkenalkan beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari upaya meningkatkan potensi desa melalui bidang budaya dan ekonomi kreatif.
Inspirasi dari sembilan mata air dipilih karena air memainkan peran penting sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat Tawangagung.
Angka sembilan melambangkan kesempurnaan, sedangkan kata “tirta” dalam bahasa Jawa artinya air. Nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam bentuk motif flora, fauna, dan ornamen alam yang terpadu dalam satu cerita visual yang menyatukan semuanya.
Dari banyaknya motif batik yang ada di nusantara, salah satu motif batik yang bisa kita temui di desa Tawangagung adalah motif batik Tawangagung Sae, yang dikelola oleh UMKM lokal Khafivatul Fikriyah.
Karya batik tulis autentik dari Kabupaten Malang ini, menonjolkan keindahan motif dan kualitas pengerjaan tangan yang tinggi.
Batik Tawangagung Sae merupakan bagian dari industri kreatif yang berfokus pada fashion dan pelestarian budaya batik lokal.
Dengan keistimewaan tersebut, Batik Tawangagung tidak hanya menjadi kain dengan motif tertentu, tetapi juga berperan sebagai sarana dalam melestarikan nilai-nilai alam, budaya, dan identitas lokal Malang yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui batik Tawangagung Sae, pelaku UMKM lokal diharapkan dapat terus berkembang dan mendapatkan pengakuan batik dari lokal maupun nasional.
Inisiatif ini juga mendukung upaya pelestarian nilai dan sejarah batik sebagai warisan budaya Indonesia yang harus dilindungi dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Sumber: Press Release, Kelompok Praktikum NEXA, Public Relation, Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang.
Editor: Previari Candra S.
