Dermotimes.id, Sebuah film pendek berjudul “SELARAS” berhasil menghadirkan ruang refleksi bagi penontonnya melalui kisah emosional tentang hubungan ayah dan anak yang teruji oleh kondisi amnesia. Film berdurasi 20 menit tersebut kembali diputar dalam acara “Wake Up Call – Before Too Late” di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 Universitas Muhammadiyah Malang dan mendapat antusiasme tinggi dari audeins dengan jumlah kehadiran mencapai 122 penonton.

Disutradarai oleh Ananda Reza Mahardhika dan diproduksi oleh Imajoy Pictures, “SELARAS” mengangkat cerita tentang kehilangan ingatan dan dampaknya terhadap hubungan keluarga. Melalui alur yang sederhana namun emosional, film ini memperlihatkan bagaimana seseorang berusaha mempertahankan ikatan dengan orang yang dicintainya ketika ingatan yang menjadi bagian penting kehidupannya mulai memudar.
Tema yang diangkat dalam film ini dinilai dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Tidak hanya berbicara mengenai kondisi medis berupa amnesia, “SELARAS” juga menyoroti pentingnya komunikasi, empati, dan kehadiran anggota keluarga dalam menghadapi berbagai persoalan psikologis.
Sutradara “SELARAS”, Ananda Reza Mahardhika, mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar selama proses produksi adalah membangun kedalaman emosi para pemain agar cerita dapat tersampaikan secara utuh kepada penonton.
“Proses riset menjadi salah satu tantangan yang cukup berat. Kami juga melakukan latihan dan pendekatan kepada para pemain untuk membangun tensi emosional yang sesuai dengan cerita,” ujarnya.
Menurut Reza, salah satu adegan yang paling membekas justru datang dari momen yang awalnya tidak ia perkirakan akan menjadi titik emosional terkuat dalam film.
“Saya awalnya menulis adegan itu hanya sebagai benang merah cerita. Namun ketika proses syuting berlangsung, ekspresi dan emosi yang ditampilkan aktor membuat adegan tersebut menjadi jauh lebih kuat dari yang saya bayangkan,” katanya.
Perjalanan SELARAS dimulai dari proses produksi yang dilaksanakan pada Desember 2024 dengan melibatkan 22 kru. Film ini kemudian menggelar penayangan perdana pada Juni 2025 di Kabupaten Malang yang dihadiri 63 penonton. Tak lama berselang, SELARAS mendapat undangan pemutaran dalam Festival Siar Sinema 2025 di Kota Malang.

Pada penayangan terbarunya dalam event “Wake Up Call – Before Too Late”, film ini tidak hanya diputar sebagai karya audiovisual, tetapi juga menjadi pemantik diskusi mengenai kesehatan mental. Setelah penayangan, audiens diajak berdialog bersama Nur Ulfi Lutfiyah, M.Psi., Psikolog dari Layanan Psikolog Langkah Hati untuk membahas berbagai aspek psikologis yang muncul dalam cerita.
Diskusi tersebut memperkuat pesan yang ingin disampaikan film, bahwa kesehatan mental dan hubungan keluarga merupakan dua hal yang saling berkaitan. Kehadiran orang-orang terdekat sering kali menjadi faktor penting dalam membantu seseorang menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya.
Melalui kisah yang hangat dan penuh emosi, SELARAS tidak hanya menawarkan pengalaman menonton, tetapi juga mengajak penonton untuk merenungkan kembali arti kehadiran, ingatan, dan hubungan keluarga. Film ini menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai kesibukan dan perubahan hidup, perhatian serta komunikasi dengan orang-orang terdekat tetap menjadi hal yang tidak tergantikan.
Sumber: Press Release
