Dermotimes.id – Politik luar negeri Indonesia memasuki babak baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Hal Ini menggabungkan antara idealisme historis dan realisme pragmatis, metode ini tidak hanya berfokus pada kepentingan nasional tetapi juga pada semangat persatuan internasional yang telah lama menjadi bagian dari identitas nasional. Presiden ke-8 mengambil pendekatan yang lebih asertif dan pragmatis dalam membangun hubungan internasional dalam konteks realisme. Melalui peningkatan kerja sama dengan negara-negara besar seperti Cina dan Rusia merupakan salah satu langkah konkrit yang sudah dilakukan. Pada tahun lalu, dalam lawatan ke berbagai negara tepatnya di Beijing pada November 2024 Indonesia mencapai kesepakatan bisnis senilai lebih dari $10 miliar pada bidang pertanian, energi hijau, dan sumber daya mineral. Langkah ini menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan peran Indonesia dalam ekonomi dunia.
Selain itu, Indonesia juga meningkatkan hubungannya dengan Rusia melalui berbagai kerja sama, seperti latihan militer bersama dan kemungkinan membangun pusat peluncuran satelit di Pulau Biak. Prabowo menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tetap bebas aktif dan non-blok, meskipun langkah ini menimbulkan kontroversi, seperti kekhawatiran Australia tentang potensi basis militer Rusia nantinya. Sebaliknya, melalui kerja sama tersebut presiden menekankan betapa pentingnya solidaritas internasional dalam politik luar negeri Indonesia. Tepat Pada Oktober 2024, dalam pidato kenegaraannya, Indonesia menyatakan bahwa negaranya akan terus mendukung negara-negara yang tertindas, seperti Palestina, dan berkomitmen untuk menyediakan bantuan kemanusiaan kepada korban konflik di Timur Tengah.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan internasional meskipun meningkatkan kerja sama dengan negara-negara besar. Hal ini menjadi penting untuk menjaga citra Indonesia sebagai negara yang tidak hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi juga berkontribusi pada perdamaian serta berperan dalam menjaga stabilitas di seluruh dunia. Melalui pemerintahan Prabowo, kebijakan luar negeri Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang sangat kompleks, termasuk ketegangan semakin meningkat dengan negara-negara besar hingga perubahan konstan dalam dinamika geopolitik global. Sebaliknya, meskipun berada dalam situasi tersebut Indonesia harus mampu mempertahankan posisi strategisnya dalam menjaga kedaulatan negara serta membantu stabilitas global. Meskipun begitu, Indonesia juga harus berhati-hati untuk menghindari perang dingin atau konflik kepentingan yang dapat membahayakan negaranya, karena ketegangan geopolitik yang melibatkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Cina, dan Rusia. Dalam hal yang sama, kebijakan luar negeri Indonesia harus lebih fleksibel serta responsif dalam menghadapi perubahan kekuatan global, pergeseran aliansi internasional, dan masalah global seperti migrasi dan iklim.
Maka dari itu, Indonesia memiliki peluang besar untuk memainkan peran yang lebih aktif dan konstruktif di kancah internasional dengan menggunakan pendekatan yang menggabungkan idealisme dan realisme. Melalui pendekatan realisme, Indonesia dapat berkonsentrasi pada kepentingan nasional yang lebih nyata dan praktis, seperti memperkuat ekonomi, pertahanan, memperluas kerja sama dengan negara-negara besar, hingga meningkatkan posisinya dalam perdagangan internasional. Sebaliknya, dengan penerapan idealisme juga melalui prinsip-prinsip seperti perdamaian, solidaritas internasional, dan hak asasi manusia terus menjadi landasan yang tidak dapat diabaikan. Penggabungan kedua paham dan menjadikan sebuah strategi memungkinkan Indonesia untuk tetap relevan dalam persaingan global yang semakin ketat.

sumber gambar : media faktual indonesia
Upaya dalam memperkuat hubungan ekonomi dan strategis dengan negara-negara besar merupakan komponen penting dari kebijakan luar negeri Indonesia pada rezim kali ini. Sektor penting seperti perdagangan, investasi, teknologi, energi dan pertahanan semuanya terlibat dalam kerja sama ini. Sebagai contoh, hubungan antara Indonesia dan Cina semakin kuat karena inisiatif Belt and Road Initiative (BRI), yang memberi Indonesia kesempatan untuk mendapatkan investasi besar dalam pembangunan infrastruktur, terutama di bidang energi dan transportasi. Kerja sama dengan Cina juga mencakup pengembangan proyek energi terbarukan, yang sesuai dengan tujuan Indonesia untuk meningkatkan keberlanjutan energi di negaranya. Indonesia memiliki kemampuan untuk meningkatkan ekspor dan menarik Investasi Langsung Asing (FDI) melalui diplomasi ekonomi yang lebih proaktif, ini menjadi salah satu langkah penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Selain itu, Indonesia terus berpartisipasi dalam negosiasi internasional tentang masalah perdagangan bebas dan investasi. Misalnya, Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) terdiri dari negara-negara ASEAN, Cina, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Melalui aliansi ini, Indonesia dapat memperkuat posisinya di pasar global guna mempertahankan kemandirian ekonominya dan mengurangi ketergantungannya pada negara lain.
Sebaliknya, solidaritas internasional tetap menjadi bagian penting dari pendekatan Indonesia pada kancah global, meskipun kebijakan luar negerinya semakin pragmatis. Indonesia dapat bertindak sebagai mediator dalam penyelesaian konflik internasional karena prinsip bebas aktifnya yang konsisten. Selain itu, Indonesia terus menunjukkan komitmennya untuk membantu negara-negara yang tertindas dan mendukung negara berkembang diberbagai forum internasional seperti, Indonesia terus mendukung Palestina di forum PBB dan membantu menyelesaikan konflik regional melalui ASEAN. Metode ini membantu membangun stabilitas di kawasan dan meningkatkan reputasi Indonesia sebagai negara yang mendukung perdamaian dan keadilan di seluruh dunia.
Maka dari itu, harapan besar mulai muncul melalui politik luar negri Indonesia pada saat ini. Melalui diplomasi ekonomi yang inklusif menjadi salah satu instrumen penting dalam politik luar negeri Indonesia. Disamping itu juga, menjaga kerjasama serta mengambil peran dalam wilayah ASEAN menjadi salah satu solusi yang pas guna memperkuat posisi Indonesia dalam skala regional. Terakhir, Indonesia juga harus bekerjasama dengan negara-negara berkembang lain dalam menghadapi berbagai tantangan global dan perubahan iklim.
Penulis : Mochammad Ramadhan Shofiyulloh
