Telaga Pulang di Bawah Bayang-Bayang Sawit

Raghit Kurniawan, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang.


Dermotimes.id, Opini – Desa Telaga Pulang di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, memperlihatkan dinamika khas desa-desa yang berada dalam lingkar industri perkebunan kelapa sawit.

Di satu sisi, desa ini masih mampu mempertahankan kehidupan sosial yang relatif solid serta daya tahan masyarakat di tengah berbagai keterbatasan. Namun, di sisi lain, ketergantungan ekonomi terhadap perusahaan sawit membuat ruang hidup masyarakat semakin menyempit dan pilihan hidup kian terbatas.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Telaga Pulang tidak sepenuhnya bergantung pada sektor formal. Aktivitas berkebun, memanfaatkan sungai, serta kerja kolektif masih menjadi bagian dari pola hidup warga desa.

Akan tetapi, realitas ekonomi menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat kini menggantungkan penghidupan pada sektor perkebunan kelapa sawit, khususnya melalui salah satu perusahaan sawit yang beroperasi di wilayah desa.

Keberadaan perusahaan sawit tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Telaga Pulang. Perusahaan ini menyediakan lapangan kerja yang signifikan dan menjadi sumber pendapatan utama bagi banyak keluarga.

Dalam konteks desa yang memiliki keterbatasan akses terhadap alternatif ekonomi, kehadiran perusahaan sawit kerap dipandang sebagai solusi pragmatis atas persoalan pengangguran dan kemiskinan. Namun, ketergantungan yang tinggi ini sekaligus melahirkan relasi yang tidak seimbang antara masyarakat dan korporasi.

Bagi sebagian warga, bekerja di perusahaan sawit bukanlah pilihan ideal, melainkan pilihan yang tersedia. Ketika sektor ekonomi lain tidak berkembang dan akses terhadap pendidikan serta keterampilan masih terbatas, industri sawit menjadi satu-satunya pintu masuk menuju ekonomi formal.

Kondisi ini menempatkan masyarakat desa pada posisi yang rentan, karena keberlangsungan hidup mereka sangat bergantung pada stabilitas dan kebijakan perusahaan.

Lebih jauh, ketergantungan ekonomi tersebut turut memengaruhi daya tawar sosial masyarakat. Relasi kerja yang terbentuk cenderung bersifat hierarkis, sementara ruang partisipasi warga dalam menentukan arah pembangunan desa menjadi semakin sempit.

Desa tidak sepenuhnya memiliki kedaulatan ekonomi, karena sumber penghidupan utama berada di bawah kendali korporasi. Dalam situasi seperti ini, masyarakat lebih sering menjadi objek kebijakan dibandingkan subjek pembangunan.

Di sisi lain, kehadiran negara di Telaga Pulang masih terasa minim, terutama dalam aspek pemberdayaan ekonomi jangka panjang.

Program pembangunan yang ada cenderung bersifat administratif dan temporer, belum menyentuh upaya serius untuk menciptakan kemandirian desa.

Ketika negara tidak cukup hadir dalam membuka dan memperkuat alternatif ekonomi, masyarakat secara tidak langsung terdorong untuk terus bergantung pada perusahaan sawit.

Kondisi tersebut berdampak nyata pada generasi muda Telaga Pulang. Anak-anak muda tumbuh dengan dua pilihan utama, yaitu mengikuti jejak bekerja di perusahaan sawit atau meninggalkan desa untuk mencari peluang di luar.

Desa kemudian lebih berfungsi sebagai ruang bertahan, bukan ruang berkembang. Jika situasi ini dibiarkan, Telaga Pulang berisiko kehilangan generasi produktif yang seharusnya menjadi motor pembangunan lokal.

Penting untuk ditegaskan bahwa kritik terhadap situasi ini tidak dimaksudkan untuk menafikan peran perusahaan sawit sepenuhnya. Perusahaan telah menjadi bagian dari realitas sosial-ekonomi desa dan berkontribusi terhadap penyediaan lapangan kerja.

Namun, relasi antara desa, perusahaan, dan negara perlu ditempatkan secara lebih adil dan setara. Perusahaan seharusnya tidak hanya hadir sebagai penyedia kerja, tetapi juga sebagai mitra dalam pembangunan sosial yang berkelanjutan.

Pada saat yang sama, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa desa tidak terjebak dalam ketergantungan struktural. Pembangunan desa semestinya diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat, diversifikasi ekonomi, serta perlindungan ruang hidup warga.

Ketahanan sosial yang dimiliki desa seperti Telaga Pulang seharusnya dijadikan modal pembangunan, bukan alasan untuk membiarkannya berjalan sendiri tanpa dukungan yang memadai.

Telaga Pulang bukanlah desa yang lemah. Namun, kekuatan tersebut tidak seharusnya terus diuji dalam situasi ketergantungan dan minimnya kehadiran negara.

Jika desa terus ditempatkan di antara dominasi industri sawit dan absennya intervensi negara yang berpihak, maka yang terjadi bukanlah pembangunan, melainkan stagnasi yang berkepanjangan. Desa membutuhkan keberpihakan yang nyata agar mampu menentukan masa depannya sendiri.

Penulis: Raghit Kurniawan

Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggungjawab redaksi Dermotimes.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *