Aisyiah Aiwani Baletti, merupakan Alumni S2 Bimbingan Konseling Universitas Negeri Malang. Selain itu Ia juga merupakan penggiat pendidikan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Dermotimes.id, Berita – Peristiwa tragis yang menimpa YBR (10), seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada yang ditemukan tak bernyawa pada Kamis 29 Januari 2026, memicu kritik tajam terhadap sistem pendidikan di Indonesia.
Alumnus Bimbingan Konseling (BK) Universitas Nusa Cendana (UNDANA), Aisyiah Aiwani Baletti, menilai tragedi ini bukan sekadar insiden personal, melainkan potret nyata kegagalan negara dalam memeratakan fasilitas pendidikan dan kesejahteraan di wilayah pelosok.
“waktu saya berstudi di S1 dulu pernah di tempatkan mengajar di area pedalaman wilayah ujung Kabupaten Ende, memang di ujung daerah-daerah terpencil di wilayah NTT itu kebanyakan sistem pendidikan nya itu masih belum cukup baik, seperti yang biasanya di ceritakan di kampus diajarkan di kampus itu bahkan secara sistematika kependidikan nya juga siswa nya itu kadang datang tanpa beralaskan kaki”, ungkap perempuan asal Kabupaten Ende tersebut.
Tak hanya itu, Ia juga menceritakan pengalamannya dalam satu waktu anak-anak sekolah bahkan baru tiba di sekolah pukul 08:00 dikarenakan harus mengantarkan ikan ke pasar untuk dijual barulah mereka ke sekolah.
Selain itu, dari sisi psikologis Ia mengatakan, anak SD atau anak kecil ini kan punya ego yang cukup besar, disitu memang dia (YBR) pasti mempunyai satu gengsi dimana dia perlu memenuhi kebutuhan primernya sebagai seorang siswa.
Namun di sisi lain, ketika teman-temannya mungkin punya tapi dia tidak punya dia merasa minder. Pada akhirnya Ia akan binggung dan mengucilkan dirinya sendiri.
Terlepas dari itu Ia menilai bahwasanya kasus ini merupakan permasalahan pararel dari hulu ke hilir. Evaluasi besaran-besaran merupakan hal yang sudah seharusnya dilaksanakan baik itu dari tingkat tertinggi yakni Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) hingga pada tataran paling rendah yakni Pemerintah Daerah.
“Kejadian yang menimpa YBR ini merupakan bentuk nyata dari kekeliruan negara dalam menerjemahkan makna dari pendidikan itu sendiri”, ungkapnya
Sasa, sapaan akrabnya, bahkan menyentil pergeseran paradigma pemerintah yang dianggap lebih memprioritaskan program fisik daripada kualitas otak dan mental generasi bangsa.
“Negara hari ini tidak lagi membicarakan bagaimana kualitas pendidikan, bagaimana kualitas tenaga pengajarnya bahkan alokasi anggaran pendidikan hari ini di pangkas untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga paradigma pendidikan hari ini telah bergeser dari otak turun ke perut”, lanjut Sasa.
Menurut Sasa, negara memiliki tanggung jawab moral dalam permasalahan ini, baik itu dari segi pendidikan maupun kesejahteraan masyarakat terkhusus masyarakat miskin sebagaimana yang sudah diamanatkan oleh konstitusi.
“Seharusnya dalam memetakan data keluarga yang kurang mampu di Indonesia, pemerintah harus betul-betul melihat kondisi dan kejadian dilapangan agar distribusi anggaran atau bantuan yang disalurkan sesuai dengan hal yang memang mereka butuhkan”, tutup Sasa.
Pewarta: Natasha Zulaikha, Nasywa Isnaini.
Editor: Redaksi Dermocreative
