Dermotimes.id, HMI ISIP UMM – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (ISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Basic Training atau Latihan Kader I (LK I) pada 23-25 Oktober 2026. Kegiatan yang diikuti oleh 31 mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM ini menjadi bagian dari proses perkaderan formal HMI sekaligus ruang awal bagi mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas intelektual, keterampilan sosial, dan kesadaran akan peran strategis mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Lebih dari sekadar agenda formal tahunan, LK I dirancang sebagai gerbang awal bagi mahasiswa untuk mengenal organisasi sebagai ruang pembelajaran, pengembangan potensi, dan aktualisasi diri. Melalui proses perkaderan, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai nilai-nilai dasar perjuangan HMI, tetapi juga mampu mengembangkan minat dan bakat melalui berbagai instrumen organisasi yang tersedia.
Ketua Umum HMI Komisariat ISIP UMM periode 2026/2027, Daeng Abdulrahman Ramadan, menegaskan bahwa perkaderan harus dipahami sebagai proses pembentukan manusia yang tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi berlanjut pada kemampuan berpikir kritis, bersikap mandiri, dan bertindak nyata di tengah masyarakat.
“LK I bukan sekadar agenda formal untuk memperkenalkan HMI kepada mahasiswa baru. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan pintu masuk bagi mahasiswa untuk menemukan ruang tumbuhnya, mengasah kapasitas intelektual, mengembangkan keterampilan, serta mengenali potensi dirinya melalui proses organisasi. Kami ingin mahasiswa melihat HMI sebagai ruang belajar sekaligus ruang pengabdian,” ujarnya.
Pelaksanaan LK I berlangsung dengan khidmat melalui penyampaian materi-materi wajib perkaderan HMI dan pembahasan konseptual mengenai berbagai aspek kehidupan organisasi, keislaman, keindonesiaan, serta tanggung jawab intelektual mahasiswa. Namun, untuk memperluas pengalaman belajar peserta, kegiatan ini juga menghadirkan materi tambahan yang berorientasi pada pengembangan keterampilan praktis dan pengenalan ruang aktualisasi profesi.
Salah satu penambahan materi tersebut berkaitan dengan teknis dan praktik kewirausahaan (entrepreneurship). Materi ini diarahkan untuk memperkenalkan pentingnya kemandirian, kreativitas, kemampuan membaca peluang, serta keberanian mengembangkan gagasan menjadi kegiatan yang produktif. Dengan demikian, kader diharapkan tidak hanya mampu memahami persoalan secara teoritis, tetapi juga memiliki bekal untuk merancang solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan lembaga-lembaga keprofesian yang berada dalam ekosistem HMI, salah satunya Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI). Pengenalan ini menjadi upaya untuk menunjukkan bahwa organisasi memiliki beragam ruang pengembangan kapasitas, mulai dari literasi, jurnalistik, komunikasi publik, hingga produksi pengetahuan yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
Bagi HMI Komisariat ISIP UMM, pengembangan keterampilan melalui lembaga keprofesian tidak semestinya berhenti pada pencapaian kemampuan teknis. Keterampilan tersebut perlu diarahkan menjadi instrumen untuk menerjemahkan nilai, gagasan, dan cita-cita perjuangan HMI ke dalam kerja-kerja kemanusiaan yang nyata. Melalui pendekatan ini, kader diharapkan mampu menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan sosial serta menghadirkan kontribusi yang dapat dirasakan oleh lingkungan sekitarnya.
“Bagi kami, kemampuan intelektual dan keterampilan praktis harus berjalan beriringan. Kader HMI perlu memiliki kemampuan untuk membaca persoalan, tetapi juga harus berani mengambil peran dalam menyelesaikannya. Nilai-nilai yang dipelajari dalam perkaderan akan kehilangan makna apabila tidak diterjemahkan menjadi tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambah Daeng.
Penguatan kesadaran kritis peserta juga dilakukan melalui materi dinamika kelompok. Dalam sesi ini, peserta didorong untuk mendiskusikan berbagai isu kontemporer, bertukar perspektif, menyampaikan argumentasi, dan membangun pemahaman bersama mengenai persoalan yang dihadapi bangsa. Dinamika kelompok tidak hanya menjadi sarana melatih komunikasi dan kerja sama, tetapi juga stimulus untuk membangun kesadaran mahasiswa terhadap peran dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat.
Melalui diskusi dan interaksi kelompok, mahasiswa diperkenalkan pada pentingnya mengidentifikasi persoalan secara rasional, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, serta merumuskan respon yang berlandaskan nilai dan tanggung jawab moral. Proses tersebut diharapkan membantu peserta memahami bahwa mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengamat atas berbagai persoalan sosial, tetapi juga perlu mempersiapkan diri untuk mengambil bagian dalam upaya penyelesaiannya.
Rangkaian materi tambahan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menyelaraskan proses perkaderan dengan visi dan misi HMI Komisariat ISIP UMM periode 2026/2027, yakni melahirkan kader HMI yang berjiwa profetik, berpikir rasional, serta bertindak sebagai seorang Muslim inteligensia. Orientasi ini menempatkan dimensi spiritual, kemampuan intelektual, dan tanggung jawab sosial sebagai unsur yang saling melengkapi dalam pembentukan karakter kader.
Jiwa profetik dipahami sebagai landasan etik yang mendorong kader menjunjung nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. Sementara itu, rasionalitas menjadi dasar untuk mengembangkan tradisi berpikir kritis, terbuka, dan argumentatif. Keduanya diharapkan terwujud dalam tindakan yang bertanggung jawab, baik di lingkungan kampus, organisasi, maupun masyarakat luas.
Daeng Abdulrahman Ramadan menambahkan bahwa tantangan mahasiswa saat ini menuntut kemampuan yang lebih luas daripada sekadar penguasaan pengetahuan akademik. Mahasiswa perlu memiliki kepekaan sosial, kematangan dalam berpikir, keterampilan berkomunikasi, dan keberanian untuk berkontribusi dalam menghadapi perubahan zaman.
“Kami ingin membangun tradisi perkaderan yang tidak memisahkan nilai keislaman dari rasionalitas, serta tidak memisahkan pengetahuan dari pengabdian. Kader yang berjiwa profetik harus memiliki orientasi moral yang kuat, kader yang berpikir rasional harus mampu menguji gagasan secara kritis, dan keduanya harus tercermin dalam tindakan nyata. Itulah arah yang ingin kami dorong melalui perkaderan HMI Komisariat ISIP UMM periode 2026/2027,” jelasnya.
Melalui pelaksanaan LK I pada 23–25 Oktober 2026, HMI Komisariat ISIP UMM berharap 31 peserta yang mengikuti kegiatan ini memperoleh fondasi awal untuk melanjutkan proses belajar dan pengembangan diri di lingkungan organisasi. Perkaderan dipandang bukan sebagai titik akhir setelah peserta menyelesaikan pelatihan, melainkan sebagai permulaan dari proses panjang pembentukan karakter, penguatan kapasitas intelektual, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ke depan, HMI Komisariat ISIP UMM berupaya menjadikan organisasi sebagai ruang yang relevan bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi, memperluas wawasan, serta membangun keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Dengan demikian, nilai-nilai yang diperoleh selama perkaderan diharapkan tidak berhenti sebagai pemahaman konseptual, tetapi berkembang menjadi kesadaran, sikap, dan tindakan yang berkontribusi bagi kehidupan kampus, umat, dan bangsa.
SUMBER: Press Release
