
Dermotimes.id,Malang — Tepuk tangan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) malam itu tak hanya pecah ketika Raim Laode mulai bernyanyi. Riuh serupa berkali-kali terdengar ketika penyanyi asal Wakatobi tersebut berhenti sejenak dari musik dan berbicara kepada mahasiswa yang memenuhi lokasi acara.
Di panggung malam Kick Off PMB Gen 27 UMM dan Welcoming Maba Gen 26 UMM, pada Selasa, 06 Oktober 2026, Raim tidak sekadar berpindah dari satu lagu ke lagu berikutnya. Sebelum sejumlah lagu dinyanyikan, ia lebih dulu membawa penonton masuk melalui narasi pendek dengan gaya puitisnya. Isinya beragam, mulai dari kekurangan diri, kesulitan hidup, mimpi, pendidikan, pengorbanan orang tua, hingga hubungan manusia dengan Tuhan.
Pada pantauan Kami di lapangan, sebelum menyanyikan Lesung Pipi, misalnya, Raim membangun narasi mengenai lesung pipi yang ia kaitkan dengan kondisi pada struktur wajah. Dari sesuatu yang secara fisik dapat dipandang sebagai kekurangan, Raim kemudian membawa mahasiswa melihatnya dari sudut berbeda: ketidaksempurnaan tidak selalu kehilangan keindahannya.
Narasi itu menjadi jembatan menuju lagu yang kemudian ia bawakan.
Percakapan Raim dengan mahasiswa selanjutnya bergerak ke persoalan yang lebih reflektif. Ia menyinggung Surah Al-Insyirah dan mengulang pesan bahwa di balik kesulitan terdapat kemudahan.
Menurut Raim, pengulangan pesan tersebut menjadi pengingat bagi manusia yang kerap membutuhkan keyakinan lebih dari sekali ketika sedang berhadapan dengan kesulitan.
Di bagian lain penampilannya, Raim juga menyentil kegelisahan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Ia berbicara kepada mereka yang merasa salah memilih jurusan, mengingatkan kembali tujuan datang ke perguruan tinggi, sekaligus mengajak mahasiswa mengingat orang tua yang berada di balik perjalanan pendidikan mereka.
Pesan-pesan tersebut berkali-kali disambut sorakan dan tepuk tangan mahasiswa.
Raim kemudian berbicara tentang mimpi. Kalimatnya singkat.
“Mimpi itu gratis, maka ambillah yang paling mahal,” ujarnya.
Pesan Raim yang Dekat dengan Kehidupan Mahasiswa Rantau
Ucapan itu menemukan konteksnya di tengah mahasiswa baru yang sedang memulai perjalanan akademik dan kehidupan baru di perguruan tinggi. Bagi sebagian mahasiswa, pesan-pesan yang disampaikan Raim bahkan terasa dekat dengan pengalaman mereka sendiri.
Nayara Putri Aulia, mahasiswa Gen 26 Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM asal Kalimantan Barat, mengaku tidak hanya menikmati pertunjukan musik malam itu.
“Menurut saya, selain penampilan musik yang seru, beberapa ungkapan yang dilontarkan Raim Laode cukup relate dengan saya dan dapat menjadi motivasi tersendiri untuk lebih semangat menjalankan perkuliahan serta kehidupan di tanah rantau,” kata Nayara.
Bagi Nayara, pesan dari atas panggung bersinggungan langsung dengan pengalamannya sebagai mahasiswa yang harus menjalani perkuliahan jauh dari daerah asal.
Kesan serupa dirasakan Muhammad Abdillah, mahasiswa Gen 26 Fakultas Psikologi UMM asal Semarang. Ia menilai kekuatan penampilan Raim bukan hanya terdapat pada musik, tetapi juga pada cara penyanyi tersebut merangkai kata-kata sebelum memasuki lagu.
“Kata-kata puitis Raim aku rasa berhasil menyihir, sih. Apalagi respon penonton yang begitu semangat,” ujar Abdillah.
Ketika Panggung Musik Bertemu dengan Pesan Spiritual
Interaksi antara Raim dan mahasiswa memang menjadi bagian yang menonjol sepanjang pertunjukan. Narasi yang ia lempar dari atas panggung kerap memperoleh jawaban spontan dari penonton, baik melalui tepuk tangan, sorakan maupun sahutan bersama.
Nuansa keislaman dalam acara juga muncul tidak hanya melalui pesan-pesan yang disampaikan Raim. Di tengah penampilannya, ia sempat menyoroti pengaturan barisan penonton laki-laki dan perempuan yang dibuat terpisah.
Pengaturan tersebut menjadi salah satu karakter yang ia tangkap dari acara di lingkungan kampus Muhammadiyah itu. Nuansa tersebut semakin terasa ketika penampilan memasuki bagian akhir.
Sebelum membawakan Iqro sebagai lagu penutup, Raim kembali mengajak mahasiswa berbicara tentang keberanian, usaha, dan keyakinan kepada Tuhan.
Ia berpesan agar anak muda tidak takut melakukan hal-hal besar. Sebab, di belakang setiap usaha manusia, kata Raim, terdapat Zat Yang Maha Besaryang selalu mengamini setiap ikhtiar.
Ucapan tersebut langsung disambut takbir dari kerumunan mahasiswa.
“Allahu Akbar,” terdengar menggema dari barisan penonton.
Momen itu menjadi salah satu titik paling kuat malam tersebut. Panggung musik untuk sesaat berubah menjadi ruang pertemuan antara hiburan, refleksi kehidupan, dan spiritualitas.
Raim malam itu tidak menawarkan ceramah panjang. Pesan-pesannya datang melalui cerita pendek, permainan kata, humor, dan pengantar menuju lagu. Namun justru melalui cara itu, persoalan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa seperti salah jurusan, mimpi, orang tua, kehidupan di perantauan, dan Tuhan masuk ke tengah kerumunan tanpa terasa menggurui.
Itulah yang membuat sorak malam tersebut tidak hanya terdengar ketika intro lagu dimainkan.
Beberapa kali, justru kata-kata di antara lagulah yang membuat mahasiswa bertepuk tangan paling riuh.
Ketika Iqro akhirnya menjadi penutup, konser Raim Laode di UMM meninggalkan tidak hanya sekedar deretan lagu. Di antara gemuruh mahasiswa Gen Z, ia seolah menitipkan motivasi sederhana tetapi dekat dengan kehidupan mereka.
