Dermotimes.id, Malang, 5 Oktober 2026 – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UMM menggelar aksi simbolik untuk memperingati empat tahun tragedi Kanjuruhan pada Senin sore, 5 Oktober 2026. Aksi tersebut berlangsung di depan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 dan diikuti oleh mahasiswa FISIP UMM.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk kembali mengingat tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022. Selain menyuarakan aspirasi, mahasiswa juga melakukan refleksi melalui penampilan musikalisasi puisi oleh Teater Sinden FISIP.
Suasana aksi kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Totalitas Perjuangan” secara bersama-sama. Lagu tersebut menjadi salah satu bentuk semangat mahasiswa dalam menyampaikan suara dan menjaga ingatan terhadap tragedi Kanjuruhan.
Salah satu mahasiswi yang mengikuti aksi tersebut menyayangkan masih adanya pihak yang dianggap belum memberikan perhatian terhadap tragedi Kanjuruhan. Menurutnya, 135 korban dalam tragedi tersebut tidak seharusnya hanya dilihat sebagai angka.
“Sangat-sangat amat disayangkan karena masih banyak aparat-aparat yang juga menutup telinga terhadap tragedi Kanjuruhan ini. 135 jiwa itu bukan sekadar angka, itu merupakan korban,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus membicarakan dan menyuarakan persoalan Kanjuruhan agar tragedi tersebut tidak dilupakan.
“Dari saya pribadi, dari seluruh rakyat Indonesia, ayo kita terus membahas, ayo terus mengangkat suara Kanjuruhan ini,” lanjutnya.
Sementara itu, Gubernur BEM FISIP UMM menyampaikan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk komitmen mahasiswa untuk terus mengingat tragedi Kanjuruhan dan menuntut adanya pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang berkaitan.
“Jadi terkait kegiatan kita di sore hari ini adalah bagaimana kita mengenang dan kita menolak lupa terhadap tragedi yang ada di Kanjuruhan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa FISIP UMM menginginkan adanya kepastian mengenai pertanggungjawaban dari aparat yang berkaitan dengan tragedi tersebut. Menurutnya, jumlah korban yang mencapai 135 jiwa merupakan persoalan besar yang seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah.
“Korban yang jumlahnya 135 ini sangat besar sekali. Bahkan tragedi Kanjuruhan merupakan tragedi terbesar kedua di sepak bola dan hal ini harusnya tentunya menjadi perhatian penting dari pemerintah,” jelasnya.
Menurutnya, empat tahun setelah tragedi tersebut masih menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk terus mengawal persoalan Kanjuruhan. Ia menegaskan bahwa mahasiswa FISIP UMM berkomitmen untuk tidak melupakan tragedi tersebut dan terus mengawal berbagai persoalan yang berkaitan dengan korban.
“Pada hari ini, empat tahun kemudian, tidak ada sama sekali tindakan. Maka kami di sini berkomitmen, mahasiswa FISIP di sini berkomitmen bagaimana kita tidak akan melupakan tragedi yang ada di Kanjuruhan,” ujarnya.
Aksi simbolik tersebut ditutup dengan ajakan untuk menjaga keberlanjutan gerakan mahasiswa dalam mengawal isu Kanjuruhan. Bagi mahasiswa yang hadir, peringatan empat tahun tragedi Kanjuruhan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat agar persoalan tersebut tidak berhenti dibicarakan dan terus mendapat perhatian publik.
Sumber: Press Release
