Politik Identitas Menjadi ancaman terhadap Nasionalisme dan Pluralisme
Dermotimes.Membahas mengenai nasionalisme dan prularisme menjadi perbincangan yang popular di tengah masyarakat dan menjadi hal yang menarik dalam studi ilmu social dan politik. Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya kolektif yang mencirikan adanya pengakuan yang optimal dan kebersamaan terhadap budayanya seperti gotong royong, dan kekompakan lainnya. Namun juga sering terjadi problem atau konflik jika ada perbedaan antar kelompok. Mulai dari generasi milenial seperti sekarang, yang dimana mudah giring opininya melalui kekuatan social media maupun media-media lainnya seperti komunikasi yang canggih di era 4.0 yang dimanan kondisi melenial di usia masih muda untuk melihat atau memahami secara matang dan sehat.
Strategi politik yang di gunakan dalam populisme lebih memanfaatkan ide yang mengacu terkonstruksi oleh masyarakat, dalam menciptakan ide atau gagasan yang meruncing pada indetitas pribadi dalam actor politik. Hal ini menerangkan bahwa kondisi populalisme yang ramai dan di perbincangkan di tengah-tengah masyarakat khususnya di Indonesia yang dimana bukan sesuatu yang muncul baru-baru saja. Terlebih sering muncul asumsi negative yang menandai strategi dalam pengumpulan atau dukungan bagi kandidat dalam pesta demokrasi atau pemilihan umum. Asumsi inilah yang memberikan ruang atau di manfaatkan untuk mengeluarkan dalam membangun persepsi yang lebih menguntungkan salah satu calon atau kandidat.
Menjelaskan dalam pendangan sejarah yang sering di gambarkan menunjukkan bahwa prularisme khususya dalam agama bahwasanya pernah merealisasikan dalam bentuk yang harmonis bukan konfrontasi dan disentegrasi. Namun tidak selamanya demikian, sebab dalam pristiwa berbeda yang mengatakan pluralisme agama melahirkan bentuk konfrontasi yang lebih mengakibatkan dalam konteks pluralitas dalam agama masih membentuk parameter social yang menjarak dari penganut agama yang berbeda. Guna untuk menghasilkan atau membangun kerukunan dan ketentraman dalam hidup umat Beragama, di Indonesia merupakan suatu hal yang sangat mutlak di perlukan, dalam kerangka menunjang kondisi lebih kondusif sebagai cita-cita dalam harapan bagi masa depan masyarakat dan bangsa Indonesia.
Kemudian apabila masyarakat belum mampu dalam memahami atau menghadapi fenomena itu, maka kemungkinan akan menjadi korban darinya. Masyarakat akan berada pada posisi yang belum memungkinkan, jika kehilangan indetitas dan karakter, kompetesi yang belum sehat, dan konflik dimensional. Situasi atau kondisi ini akan berdampak terhadap pengerusan dan degradasi dalam aspek berbagai deminsi kedidupan bersosial, yang mengakibatkan lemahnya dalam bersemangat kebangsaan dan keterpurukan di bidang ekonomi, politik, social budaya, moral dan system pendidikan. Ancaman terhadap pengerusan dan degradasi ini lebih berpotensi terjadi terhadap kondisi bangsa Indonesia yang lebih kental terhadap kondisi ruang prular dalam aspek budaya, suku, Bahasa, bahkan agama. Kemudian jika sikap atau karakter masyarakat tidak mampu atau belum cukup menghadapi kondisi dalam potensi pengerusan dan degradasi ini, kemungkinan berdampak terhadap suasana lenturnya kondisi semangat dan rasa terhadap kebangsaan (nasionalisme), seperti konflik, desentegrasi, separatisme dan rasialisme yang berpotensi memberikan dampak yang besar terhadap pembangunan dan penanaman nilai dalam pengembangan kebangsaan.
Untuk melempar paham terkait sikap kontra produktif oleh sebagian masyarakat beragama islam dalam ekstitensi Pancasila sebagai ideologi bangsa ini, maka yang paling penting dalam membentuk kesadaran yang menjadi fundamental yang tidak di haruskan boleh terabaikan. Sebab konsep konseus dalam sejarah perumusan dasar negara Indonesia yang memiki dinamika social, politik, maupun agama yang lebih kompleks. Dinamika tersebut keluar sejak pra-kemerdekaan sehingga berlanjut hingga saat ini. Sejarah lebih mengambarkan atau mencatat bahwa pada era pra-kemerdekaan Indonesia mengalami pergulatan dalam ideologis antara kelompok besar terhadap perumusan dasar negara. Yaitu terjadi dualisme yaitu kelompok islam dan kelompok nasionalisme. Kelompok islam agar berharap islam dijadikan ideologi negara. Dan kelompok yang menganut nasionalis mengharap lebih ideologi nasionalisme yang tidak terikat dengan agama manapun tidak terkecuali islam.
Penyelenggara pemilihan atau pemimpin dalam sistem demokrasi di seluruh dunia memiliki dinamika yang jauh berbeda. Di negara-negara yang homogeni misalnya, preferensi ketika memilih pemimpin lebih di arahkan pada isu yang di bawah, untuk kepentingan yang di tuju dan bagaimana strategi yang di jalankan dalam kepemimpinanya ketika terpilih. Sedangkan di negara-negara yang memiliki penduduk heterogen, seperti kultur, etnis yang berbeda bahkan agama menjdi landasan primordial yang begitu menentukan keberpihakannya terhadap sesorang calon pemimpin yang menjadi pilihannya. Keterlibatan aspek primordial dalam konteks demokrasi yaitu untuk mengarahkan keberpihakan yang menjadi dasar indetitas tertentu atau disebut dengan politik indetitas.
Polemik yang muncul apakah praktek politik indetitas buruk atau baik jika dalam rana demokrasi di indoensia? Membahas terkait hal ini banyak perbedaan di kalangan akademisi, yang dimana berbagai hal mengatakan politik indetitas adalah indicator primordialitas karena memilih pemimpin tidak berdasarkan kapasitas melainkan atas dasar indetitas, dan sebagai lainnya banyak mengatakan baik karena pemimpin yang akan terpilih akan meraju terhadap kepentingan public sebagai kelompok yang mayoritas, sebagian mangatakan terpilihnya pemimpin akan mengarahan demi kepetingan pribadi atau kelompok dan memiliki karatek politik indetitas yang kuat untuk memepengaruhi masyarakat dalam ikut berpartisipasi terhadap politik maupun pesta demokrasi.
Nilai-nilai kebangsaan negara indoensia masa sekarang masi ada dalam ruang penonjolan sikap primordialisme antar daerah, dengan penuh semangat otonomi daerah yang lebih menyimpang terhadap kondisi semangat kebangsaan. Primordialisme paham terkait suatu pandangan atu paham yang memegang erat hal-hal seperti yang dibawah sejak dulu atau sejak kecil, yaitu baik mengenai adat istiadat, tradisi, budaya dan kepercayaan, atau segala sesuatu yang mengelilingi segala sesuatu yang ada dalam lingkungan sejak pertamanya. Secara etimologis, primordialisme berasal dari kata Bahasa latin primus yang artinya pertama dan ordiri yang artinya tekunan atau ikatan terhadap dirinya maupun lingkunga sejak kecil yang mengelilingi.
Ikatan masyarakat terhadap kelompok yang pertama dalam lingkungannya atau segala bentuk nilai yang di dapatkan melalui sosialisasi akan berperan aktif untuk membentuk sikap keprimordialannya. Di lain sisi, bentuk sikap primordial sangat memiliki fungsi dalam melestarikan budaya yang ada pada kelompoknya. Kemudian, di lain sisi sikap akan membuat terbentuknya diri individu yang berkualitas atau kelompok yang memiliki sikap etnosentrisme, Dimana suatu sikap yang lebih bersifat subjektif dalam melihat budaya orang lain. Mereka akan lebih memandang budaya lain dengan perspektif budayanya. Hal ini di sebabkan karna nilai-nilai yang sudah tersosialisasikan sejak dulu sudah ternaman dalam nilai yang sudah mendarah daging dan sangat sulit di pahami untuk berubah dan cenderung lebih ketika di pertahankan apa bila nilai itu sangat menguntungkan bagi individu sendiri. Bukti nyata terhadap politik indetitas primordialisme ini melihat makin berlontarnya keinginan pencapain daerah dalam berlombah-lombah demi mengurus dirinya sendiri.

Editor By Dermotimes
