Dermotimes.id,Opini- Kemajuan zaman merupakan upaya pembaharuan yang menyebabkan pergeseran kebudayaan. Melalui keterampilan dan rasionalitas, manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan ke tahapan-tahapan lanjut. Hal ini dilakukan demi menciptakan kondisi yang dapat mempermudah kehidupan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, secara otomatis akan mengakibatkan pergeseran paradigma maupun cara berfikir dalam kehidupan masyarakat.
Kondisi zaman bergerak menuju ke arah perubahan nilai dan membentuk keahlian-keahlian yang lebih spesifik pada diri manusia, serta akan mengkonstruk suatu perilaku sosial pada lingkungannya. Akibatnya, individu akan dihadapkan oleh kondisi yang berbeda dari sebelumnya, dan berupaya untuk menyesuaikan diri dari tuntutan zaman serta norma-norma yang berlaku.
Kelahiran postmodernisme tidak bisa terlepas dari kehadiran modernisme, sehingga asumsi-asumsi dasar dari postmodernisme adalah apa yang telah dihasilkan oleh modernisme. Ketika modernisme berupaya menjadikan tatanan kehidupan ke arah yang lebih baik, tetapi tidak berhasil dan menjadikannya sebuah lelucon. Apa yang dicita-citakan, berbanding terbalik dengan kenyataan yang di alami. Dunia kini mengalami kerusakan melalui pengembangan senjata, ancaman terhadap ekologi, dan defisit humanisme yang menyebabkan cara hidup manusia menjadi individualistik.
Tak terbendung lajunya modernisme, akan menjadikannya senjata bagi dirinya sendiri. Mikhail Kalashnikov, seorang desainer senjata sekaligus penemu senjata AK-47 menjadi contoh nyata. Senjata AK-47 adalah sebuah senapan serbu dan digunakan oleh banyak orang diberbagai negara. Senjata tersebut menjadi simbol revolusi oleh para organisasi bersenjata dan pemberontak . Sebelum Kalashnikov wafat, ia menuliskan surat yang menyatakan rasa penyesalan terhadap temuannya senjata AK-47, karena telah merenggut jutaan nyawa manusia.
Pada tataran industri dan pembangunan perusahaan, pastinya membutuhkan sumber daya alam, mansusia dan lahan. Menyebabkan kekhawatiran terhadap ekologi dan urbanisasi dari daerah terpencil. Ancaman serius ini, bisa lihat dari kasus penebangan hutan di Papua, Kalimantan, Sumatera dan penggusuran lahan diberbagai daerah.
Modernitas kini menyebabkan banyak orang berprinsip materalisme, dimana setiap orang memiliki keinginan yang tidak ada habisnya. Apa lagi sering didengar wacana “memang hidup tak harus butuh uang, tetapi hidup tanpa uang rasanya ingin mati”. Demikian wacara tersebut akan mendorong manusia untuk berlomba-lomba untuk mencapai puncak tertinggi ego. Saling menikung, berebut, dan menjatuhkan adalah makanan sehari-hari pada era sekarang. Thomas Hobbes menyebutnya “Homo homini lupus”, manusia adalah serigala bagi lainnya dan “Bellum Omnium Contra Omnes”, perang antar segala melawan semuanya.
Semua bentuk upaya yang telah dilakukan modernisme dianggap telah gagal dalam menciptakan tatanan sosial yang kondusif bagi manusia. Kondisi yang modern menciptakan identitas individu yang tidak stabil dan cenderung euforia. Dalam modernitas, individu akan memusatkan kehidupan untuk kepentingan pribadi, dan bahkan terjadi pengelompokan sosial yang membeda-bedakan. Identitas dalam masyarakat modern, menjadikan setiap diri individu juga sebagai pelaku konsumen.
Ruang publik saat ini dihadapkan dengan kondisi budaya konsumtif yang membelenggu manusia. Budaya ini, menciptakan bentuk tindakan sosial yang turun-temurun ke generasi, dan merambah sampai pada wilayah nilai, etika serta moral, cara berfikir ataupun tindakan seseorang dalam lingkungannya sosialnya.
Sifat konsumtif tidak bisa terlepas dari proyek-proyek modernisme. Perkembangan industri dan teknologi, berupaya menciptakan kondisi dengan aturan-aturan baku yang menjadikannya sebagai peranan penting terhadap merosotnya ruang publik saat ini. Dengan berbagai polemik yang ada, ruang publik seakan memudar dari upaya-upaya untuk memajukan kesejahteraan umat manusia. Tentunya, sikap apatis terhadap realitas sosial disebabkan oleh dominannya kecenderungan manusia menjadi konsumeris.
Kemajuan teknologi dan industri, mendorong akses informasi yang begitu cepat, mengakibatkan sistem menjadi lebih fleksibel yang memungkinkan pemasaran lebih cepat dan luas terhadap komoditas. Berkat dorongan akses internet dalam menjual barang produksi, tingkat efisiensi menjadi lebih tinggi dan efektif melalui pengiklanan produk- produksi industri. Pengiklanan yang dimodelkan untuk mempromosi barang produksi, akan membentuk citra diri atau identitas individu yang tergila-gila terhadap komoditas yang ditawarkan.
Melalui promosi, narasi yang dikeluarkan seakan-akan menghipnotis orang-orang. Apalagi tubuh dijadikan sebagai target penjualan, khusunya perempuan di zaman sekarang yang semakin terobsesi pada tubuhnya sendiri. Zaman dulu lebih ditekankan pentingnya hidup baik, jujur dan jauh dari perbuatan dosa, sekarang pentingnnya untuk melakukan perawatan dan kecantikan. Maka fenomena yang terjadi sekarang, manusia akan berbondong-bondong untuk menjadi konsumtif.
Agar komuditas perawatan dan kecantikan laku, tubuh ditempatkan pada periklanan yang akan mendorong target untuk membeli dengan narasi, “tubuh harus ideal, sehat, dan segar”. Sehingga mempromosi tubuh menjadi ciri kebudayaan yang sentral dan kuat. Saat ini manusia meyakinkan kehidupan bahagia bukan memiliki pengetahuan atau keyakinan spiritual, melainkan kepemilikan tubuh ideal yang menyebabkan fetisisme tubuh akan terus berkembang tak terkendali. Menjadikan subyek yang selalu memata-matai dirinya dan tidak mengenal lelah untuk memeriksa diri sendiri, yang disebut Bartky sebagai“panoptikum”.
Proses pembentukan identitas, subyek akan mengalami transformasi menuju pada kondisi baru, yang mengkonstruk diri bahwa eksistensi merupakan konsep sentral dalam kehidupan. Khususnya manusia akan selalu merasa terikat dengan kebutuhan berbelanja terus-menerus, menunjukkan gaya sosial agar kelihatan selalu menyesuaikan diri dengan zaman. Fenomena tergila-gila dengan konsumsi ini, akan membentuk stratifikasi sosial antara masyarakat konsumtif dengan non-konsumtif. Ciri otentik konsumsi saat ini bukan lagi berdasarkan kebutuhan, melainkan berdasarkan keinginan.
Ada beberapa istilah yang menggambarkan kasus-kasus seperti ini. “As Citizen”, diartikan sebagai tindakan konsumen yang mencari kehidupan lebih baik di pasar-pasar perbelanjaan. ”As Victim”, anggapan bahwa dengan berkonsumsi bisa memperbaiki kehidupan. Tindakan ini dianggap berbahaya karena berpotensi mengganggu dan memperburuk psikis individu, membentuk stratifikasi sosial masyarakat.
Identitas manusia modern menjadikan mall sebagai pusat hiburan dan tempat melampiaskan hasrat makan, nonton, dan tampil eksis. Berbelanja dan mengelilingi mall tanpa kenal lelah telah banyak menyita waktu. Sebab itu, iklan dan konsumsi maupun gaya hidup kini menjadi ciri khas yang kuat. Ruang publik seakan hilang arah dari upaya-upaya penyadaran sosial dan semakin menyebabkan manusia jauh dari realitas sosial.
Penulis : Virel Zikrullah Dwi Ananta | virelananta@gmail.com
Editor : Admin dermotimes.id
