Struktur Belum Jelas, Gerakan pun Mandek: BEM FISIP UMM ‘Mati Suri’?

Dermotimes.id – Dinamika kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) belakangan ini sedang memanas.

Banyak masalah dan isu di UMM menuai kritik keras dari berbagai mahasiswa dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) kampus. Namun, menariknya, beberapa Ormawa intra kampus justru terlihat bungkam dan tidak bersuara mengenai isu-isu yang sedang terjadi di UMM.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Malang, dikenal sebagai jantung gerakan intelektual dan aksinya. Namun, mengenai permasalahan yang sedang terjadi, BEM FISIP UMM dinilai bungkam dan tidak bersuara.

Kritik keras pun dilayangkan dari berbagai elemen mahasiswa FISIP terhadap sikap BEM FISIP UMM tersebut.

Kepala Bidang, Sosial Politik BEM FISIP UMM periode 2024/2025, Jemmy Kurniawan mengatakan, disaat kampus tengah bergejolak oleh kebijakan yang menekan ruang kebebasan mahasiswa, BEM FISIP justru tenggelam dalam keheningan yang sangat memalukan.

BEM FISIP seolah hanya jadi arsip organisasi eksis di struktur, tapi absen dalam perjuangan. Diam mereka bukan tanda bijak, tapi tanda beku, beku dalam ketakutan dan kehilangan arah. Jika BEM tidak berani bersuara ketika mahasiswa dirugikan, maka untuk apa ada BEM? Apa gunanya jabatan jika nurani tak lagi bicara”, Tegas Jemmy, Sapaan akrab Kabid Sospol periode 2024/2025.

Lanjutnya, Jemmy menilai BEM FISIP UMM telah gagal menjalankan perannya sebagai penjaga kepentingan mahasiswa. Mereka bukan hanya diam, tapi kehilangan arah dan keberanian. Tidak ada langkah, tidak ada sikap, tidak ada pernyataan. Yang tersisa hanyalah simbol jabatan tanpa makna perjuangan.

Selain itu, kritik keras juga datang dari Ketua Himpunan Mahasiswa, Hubungan Internasional (HIMAHI).

Maulana Fareid, Ketua HIMAHI sedikit menyesalkan terkait sikap BEM FISIP dalam menanggapi permasalahan yang sedang terjadi di lingkup kampus UMM. Fareid mengatakan jika bem itu bisa bersuara, kemungkinan besar untuk pesannya tersampaikan kepada pihak yang bersangkutan.

“Mengenai isu tanwir kemarin, tanggapan saya terhadap BEM yang belum bersuara, mungkin lebih sedikit menyesalkan karena
bem disini adalah salah satu otoritas yang lumayan besar, karena memegang ranah fakultas yang suara nya cukup didengar di ranah kampus”, ungkap Fareid, ketika dihubungi via telepon WhatsApp, Rabu 5 November 2025.

Fareid juga menyoroti terkait alur koordinasi dari Pihak BEM FISIP ke Himpunan Mahasiswa Jurusan.

Ia menilai, hal ini menjadi lamban akibat dari beberapa permasalahan internal BEM, mulai dari belum jelasnya struktur bem itu sendiri, serta isunya masih belum jelas siapa yang menjabat sebagai Gubernur Mahasiswa, pemimpin tertinggi BEM diranah fakultas. Ia juga mendesak agak BEM segera membentuk struktur kepengurusannya.

“waktu terus berjalan, dan satu semester ini sudah terlewatkan setengahnya, jika BEM tidak ada pergerakan maka yang dirugikan bukan hanya segelintir orang, tapi satu fakultas yang mana disitu ada lima jurusan akan terkena dampaknya”, tutup Faried.

Dilain sisi, Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintah (HIMAP), periode 2024/2025, Aldi Kusuma juga menanggapi terkait pasifnya BEM FISIP dalam merespon berbagai permasalahan yang merugikan mahasiswa fisip.

Aldi menyoroti terkait pasifnya BEM FISIP UMM sebagai Ormawa tertinggi tingkat fakultas dalam merespon berbagai kebijakan kampus yang bersifat kontroversial atau merugikan mahasiswa, sebagai tanda adanya krisis peran representatif di tubuh organisasi mahasiswa.

“Padahal, secara ideal, Ormawa seharusnya menjadi corong aspirasi sekaligus kontrol sosial terhadap kebijakan institusi yang berdampak secara langsung pada kehidupan akademik mahasiswa. Pasifnya respon ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari menurunnya kultur kritis di kalangan pemimpinnya, tekanan struktural dari pihak kampus, hingga orientasi organisasi yang lebih administratif ketimbang advokatif”, jelas Aldi Kusuma.

Aldi juga menilai kondisi ini tentu memprihatikan, karena ruh utama gerakan mahasiswa seharusnya adalah keberanian bersuara dan keberpihakan pada kepentingan kolektif mahasiswa, bukan sekadar menjalankan kegiatan seremonial yang terkesan formalitas saja.

“Harapannya, Ormawa di FISIP maupun di tingkat universitas dapat kembali menegaskan posisi mereka sebagai mitra kritis kampus bukan sekadar pelengkap birokrasi dengan membangun tradisi dialog, kajian, dan keberanian untuk bersikap terhadap setiap kebijakan yang tidak berpihak pada mahasiswa”, tutup Aldi.

Abd/Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *